Selasa, 15 Oktober 2019
Agung Pratnyawan : Selasa, 18 Juni 2019 | 21:30 WIB

Hitekno.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengeluarkan larangan bekerja sama dengan Huawei. Sempat menuruti, namun kini Intel dan Qualcomm mulai membela HUawei.

Beberapa perusahaan teknologi AS sempat menuruti perintah AS untuk memutuskan hubungan dan kerja sama dengan perusahaan asal China tersebut.

Namun menurut diwartakan Tech Radar, beberapa perusahaan teknologi ini mulai menunjukkan usaha untuk membela Huawei. Beberapa di antaranya Intel, Qualcomm, dan Xilinx Inc.

Sebelumnya, Google juga sempat melobi pemerintah AS agar mencabut larangan kerja sama dengan Huawei. Nampak jika perusahaan teknologi AS ini membela Huawei.

Kini gantian Intel, Qualcomm dan Xilinx Inc mencoba melobi pemerintah AS. Ketiga produsen chip ini nampak masih ingin bekerja sama dengan Huawei.

Menurut laporan terbaru Reuters, petinggi Intel dan Xilinx Inc telah menemui Departemen Perdagangan AS untuk mendiskusikan keputusan Donald Trump.

Tidak hanya Intel dan Xilinc Inc, Qualcomm juga telah menemui Departemen Perdagangan AS untuk membahas hal yang sama.

Intel dan Qualcomm. (HiTekno.com)

Presiden AS, Donald Trump sendiri telah menandatangani keputusan untuk memasukkan Huawei ke dalam blacklist yang memaksa perusahaan AS memutuskan hubungan dengannya.

Teknologi yang digunakan Huawei dicurigai dapat membahayakan data pribadi. Tak hanya itu, Huawei juga dituduh menjadi mata-mata dari pemerintah China.

Ketika produsen chip asal AS tersebut juga tidak menolak potensi keamanan yang berbahaya dari teknologi 5G Huawei dan perangkat jaringan Huawei.

Jika ketiganya mengakui adanya risiko keamanan yang berbahaya dari perangkat Huawei, kenapa malah ingin bekerja sama dan menolak larangan pemerintah AS?

Menurut laporan tersebut, para produsen chip AS ini kehilangan keuntungan yang tidak sedikit ketika berhenti bekerja sama dengan Huawei.

Badan Intelijen Inggris Curigai Teknologi 5G Huawei. (HiTekno.com)

"Ini bukan tentang membantu Huawei, ini tentang mencegah kerusakan (kerugian) pada perusahaan AS," kata seorang sumber dalam laporan Reuters.

Disebutkan kalau selama 2018, Huawei menghabiskan 70 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 1.000 triliun. Angka yang sangat besar dibelanjakan Huawei.

Dari angka tersebut, ada 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp 150 triliun dibelanjakan ke perusahaan AS seperti Qualcomm, Intel, dan Micron.

Jika dilarang menjual produk ke Huawei, perusahaan AS bakal kehilangan keuntungan yang tidaklah sedikit. Pastinya mereka berupaya mempertahankan keuntungannya.

Jika Google, Intel, Qualcomm, dan perusahaan AS lainnya telah melobi pemerintah AS, apakah larangan pada Huawei ini bakal segera dicabut?