hitekno.com - Di penghujung Oktober 2018, sempat beredar kabar restoran vegetarian yang menyajikan daging manusia. Kabar ini menjadi viral di media sosial dan diberitakan banyak media asing.
Namun ternyata, kabar restoran vegetarian sajikan daging manusia ini adalah hoax alias kabar bohong belaka.
Menurut kisah awal yang muncul, dilaporkan sebuah restoran vegetarian di Thailand ketahuan menyajikan daging manusia kepada pelanggan.
Dilansir dari worldofbuzz, Lt. Col. Adul Thongpetch mengungkapkan hasil investivigasi polisi. Saat penemuan mayat tersebut, restoran belum buka.
''Kami menduga ia dibunuh pada 21 Oktober 2018. Restoran ini belum sepenuhnya selesai dibangun. Mereka hanya buka tiga hari menjelang akhir festival vegetarian (berakhir 17 Oktober 2018). Ini berarti restoran telah tutup selama beberapa hari sebelum pria tersebut meninggal'' ungkapnya.
Ketika ditanya soal ada kemungkinan potongan tubuh atau daging manusia korban yang hilang atau digunakan dalam memasak, ia menjawab dengan tegas tidak. Tidak ada potongan tubuh atau daging manusia yang dipakai untuk memasak.
Tersangka utama, Boonyuen Kamtawee, adalah saudara pemilik restoran tersebut. Tersangka maupun korban sama-sama bekerja untuk restoran tersebut.
Keduanya bekerja menggarap konstruksi restoran vergetarian ini. Dan mereka sering terlihat minum bersama di malam hari.
Mayat korban ditemukan di septic tank dan kemudian teridentifikasi oleh keluarganya berdasarkan tato yang ada di dadanya.
Yang pasti, kabar restoran vegetarian sajikan daging manusia untuk pelanggan ini adalah Hoax. Dapat dipastikan oleh keterangan Kepolisian Thailand tersebut.
Berita Terkini
-
Intip Trik Praktis Menyimpan Video YouTube yang Bisa Jadi Pilihan
-
Roadmap 2045 Sri Harjono, Tinggalkan Indikator Pertumbuhan Ekonomi dan Fokus Lapangan Kerja Formal
-
Mengenal Gauth AI, Bantu Siswa dari Mencari Jawaban hingga Menguasai Pelajaran
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia