hitekno.com - Netizen memang sangat jeli dalam menangkap sebuah pemandangan yang lucu di sekitar mereka. Sebuah bangunan rumah yang anti mainstream berhasil viral di Facebook dan membuat ngakak netizen.
Seseorang dengan akun bernama Dimas Hendra membagikan sebuah unggahan di forum Facebook Guyonan Jawa Timuran.
Ia mengunggah gambar sebuah rumah dua tingkat yang setengah jadi, dan membagikan sebuah caption yang menggelitik.
Netizen itu menggunakan caption ''Aku mikirin ini sampai nggak tidur, tolong solusinya''.
Terang saja, caption dan gambar itu membuat netizen lainnya berpikir sejenak dan kemudian tertawa setelah menyadari ada yang aneh dengan bangunan rumah tersebut.
Unggahannya berhasil viral di Facebook karena mendapatkan lebih dari 1.100 Like dan ratusan komentar dari netizen.
Jika dilihat sekilas, bangunan rumah setengah jadi itu memang tampak seperti bangunan pada umumnya.
Bagaimana tidak, pola pemasangan batako malah tegak lurus dan tidak selang-seling. Padahal pemasangan batako yang diselang-seling ada tujuannya, agar bangunan kuat dan tidak mudah roboh.
Melihat desain pemasangan batako yang seperti game Tetris ini, banyak netizen yang berkomentar kocak. Hal yang membuat lebih parah lagi adalah rumah tersebut terdiri dari dua tingkat sehingga semakin rawan roboh.
Mereka menilai bahwa bangunan tersebut mudah roboh apabila ada angin atau burung yang bertengger disitu.
''Tukang keramik kok disuruh masang batako, ya kayak gini jadinya Lur,'' tulis Agus Prasetyo.
''Bagus masangnya, kayak tumpukan tempe, ditinggal pergi auto ambrol,'' balas Reyhan Ohim.
Itulah tadi desain rumah yang anti mainstream sehingga viral di Facebook, bagaimana pendapat kamu?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi