hitekno.com - Seperti diketahui, mobil Google Maps keliling jalan untuk memotret jalanan yang disajikan untuk Street View. Mengetahui ini, banyak orang yang pengen ngeksis nampang di Google Street View.
Mungkin banyak pengendara motor atau pengemudi mobil yang punya pengalaman tidak menyenangkan dengan Google Maps.
Tak sedikit kasus pemotor atau pemobil yang tersasar karena mengikuti petunjuk Google Maps. Kali ini, seorang pemotor malah dapat momen langka, karena ia berhasil saling potret dengan mobil Google Maps.
Kejadian itu dialami oleh netizen Ravi R dan dibagikan ke jejaring Facebook. Ia mengunggah foto mobil Google Maps yang berhasil diabadikan menggunakan ponselnya.
Sementara unggahan foto lainnya merupakan gambar tangkap layar dari Google Street View, yang menampilkan dirinya yang tengah memotret mobil Google Maps.
"Fotonya udah sambil senyum eh malah disensor. Mobil Google Maps tuh mbah, bagi yang penasaran. Adegan ini jangan ditiru ya, karena nggak pakai helm dan mengendarai motor sambil foto di jalan," tulis Ravi.
Untuk memetakan jalan agar bisa dilihat oleh pengguna Google Maps, raksasa internet asal Amerika Serikat ini memang menggunakan mobil yang dilengkapi dengan perangkat khusus.
Netizen, sementara itu, banyak menyoroti Ravi, yang mengendarai motor tanpa helm dan sambil menggunakan ponsel.
"Hati-hati ketilang mbah, kena pasal berlapis. Nggak pakai helm dan menggunakan hape saat berkendara," kata Amie Karsidin.
"Udah nggak pakai helm, main hape, masuk Maps lagi. Duh, viral sejagat raya nanti mbah." Ujar Wayos.
Itulah aksi pemotor dan mobil Google Maps yang saling memotret saat bertemu di jalan. (Suara.com).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi