hitekno.com - Netizen jomblo negeri +62 sepertinya harus berguru setelah membaca gombalan bocah satu ini. Gombalannya yang sangat absurd berhasil membuat netizen geleng kepala dan langsung ngakak.
Sebuah fanspage Facebook bernama Kementrian Humor Indonesia mengunggah ulang kiriman dari seorang netizen bernama Heri K.
Unggahan tersebut sebenarnya merupakan sebuah screenshot milik akun Facebook seorang bocah bernama R*y*n K*pr*t.
Postingan yang dibagikan berhasil viral di Facebook setelah mendapatkan lebih dari 3.500 Like dan ratusan komentar.
Hanya dalam sehari, postingan bahkan telah dibagikan lebih dari 420 kali.
Foto profil milik seorang bocah tersebut memang sangat absurd karena ditambahi dengan caption gombalan unik.
Gombalan itu tentunya masih belum pantas diucapkan oleh anak seumuran bocah di atas.
Sontak saja banyak netizen yang memberikan respon kocak setelah melihat gombalan yang keluar dari pikiran seorang bocah itu.
Bahkan banyak netizen yang meledek akan memetik bunga tersebut setelah tumbuh subur karena pupuk kompos.
"Setelah bunganya mekar dengan indah lalu dipetik orang, karena tugas pupuk hanya membantunya berkembang bukan memiliki," komentar Frans Aldi.
"Ini bocah kalo nanti dah gede yakin malu banget pernah posting ginian di sosmed," tulis Harris Iriyanto.
"Kau jadi pupuk, dia jadi bunga...Awak jadi kumbang yg siap menghisap madunya," canda Ibra Doank.
"Bocah jaman sekarang ada-ada aja kelakuannya, dulu waktu kecil mau deket cewek aja malunya minta ampun," pendapat Uchin Kiyoshi.
Itulah tadi gombalan seorang bocah yang absurd abis sehingga viral di Facebook, bagaimana pendapat kamu?
Berita Terkini
-
Mengenal Gauth AI, Bantu Siswa dari Mencari Jawaban hingga Menguasai Pelajaran
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana