hitekno.com - Topik terkait komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI yang belum lama ini menolak diadakannya audisi PB Djarum karena menampilkan brand image produk tembakau, menjadi panas di media sosial. Tidak sependapat dengan KPAI, netizen ramai-ramai serukan #bubarkanKPAI.
Tagar #bubarkanKPAI ini memuncaki kolom Trending Topik Twitter Indonesia sejak pagi hari ini, Senin (9/9/2019) dengan lebih dari 12 ribu cuitan.
Sebelumya, KPAI dengan tegas menyoroti audisi PB Djarum yang menampilkan brand Djarum Foundation. KPAI berpendapat jika audisi PB Djarum telah melanggar PP Nomor 109 Tahun 2012 Pasal 36 dan 37, mengenai brand image produk tembakau.
Buntut dari hal ini akhirnya membuat audisi yang sukses mencetak atlet-atlet bulutangkis Indonesia, PB Djarum memutuskan untuk menghentikan audisi tersebut pada 2020 mendatang.
"Pada audisi kali ini juga saya sampaikan sebagai ajang untuk pamit sementara waktu, karena di tahun 2020 kita memutuskan untuk menghentikan audisi umum," ujar Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppi Rasimin dikutip dari laman resmi PB Djarum, Minggu (9/8/2019).
''Ini komisi perlindungan anak Indonesia apa komisi penghancur masadepan anak Indonesia sih ???? #bubarkanKPAI'' tulis akun @bangbay_.
''Eksploitasi anak ala KPAI #bubarkanKPAI'' komentar akun @axelramadan14.
''Selamat ya KPAI atas prestasinya membubarkan beasiswa bulu tangkis indonesia atas dasar hukum yang tidak jelas sama sekali dan sangat merugikan #BubarkanKPAI'' komentar akun @kunam_soebero.
Melalui tagar #bubarkanKPAI yang Trending di Twitter, netizen seolah-olah menyampaikan suara terkait ketidak setujuannya untuk masalah KPAI dan PB Djarum ini.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi