hitekno.com - Netizen di Twitter dihebohkan dengan munculnya hashtag #HarleyBancakan pada Kamis (5/12/2019) petang. Bahkan hashtag ini bertengger di trending topik Twitter.
Tak lain hashtag #HarleyBancakan ini terkait dengan pencopotan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara.
Dari hasil penelusuran Suara.com, hashtag #HarleyBancakan bertengger di jajaran trending topik Twitter, hingga menempati posisi teratas. Ada lebih dari enam ribu cuitan yang memakai hashtag ini.
Netizen ramai menuliskan cuitan tentang penyelundupan sepeda motor mewah Harley Davidson dan Sepeda Brombton lewat maskapai Garuda yang sebelumnya ditemukan oleh Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Tak sedikit dari mereka yang kemudian memberikan kecaman dan mendukung pencopotan Dirut Garuda.
"Oknum pejabat yang terlibat penyelundupan suku cadang Harley Davidson dalam pesawat Airbus A330-900 yang baru saja dibeli Garuda Indonesia mundur sesegera mungkin! #HerleyBancakan," tulis @Anitaharaa_.
"Penyalahgunaan BUMN untuk kepentingan pribadi. sungguh memalukan. mengundurkan diri atau diberhentikan saja.
#HarleyBancakan," kata @Resmaningsih1.
Netizen memberikan pujian kepada Erick Thohir setelah bertindak tegas memecat Dirut Garuda terkait penyelendupan sepeda motor Harley Davidson.
"Erick Thohir ma lord," tulis @Vernando_Ading.
"Erick Thohir dan bu Sri Mulyani, waht a powerful duo," celoteh @Imamonz.
"Inilah cara keren yang Pak Erick Thohir lakukan. CoPot Pak....hentikan pesta mereka!!," kata @wr_4ag226.
Hingga kini, hashtag #HarleyBancakan dan Erick Thohir salip menyalip di jajaran trending topik Twitter. (Suara.com).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi