hitekno.com - Banyak hal yang bisa dilakukan oleh penjual untuk melarisi barang jualanan, baik offline atau online shop.
Ide yang kerap kali digunakan untuk menarik pembeli adalah memberikan diskon, sama halnya dengan produsen kopi di Indonesia yang memberikan potongan spesial hingga 99 persen.
Namun, potongan harga tersebut justru membuat warganet emosi karena harga awal yang tidak masuk akal. Dibagikan oleh akun Twitter @dikopeah pada 8 September, pemilik akun mengunggah gambar tangkapan layar kopi yang dijual dari akun Mall di salah satu e-commerce (di mana produk yang sudah terjamin keasliannya karena langsung dijual dari tangan pertama).
Terlihat potongan harga sebesar 99 persen dari harga awal kopi. Namun, harga awal kopi tersebut dinilai tidak masuk akal untuk kopi bungkusan 20 gram.
Pada harga awal yang tertera, kopi itu dijual Rp 65,3 juta. Kemudian dicoret karena adanya potongan harga 99 persen, menjadi Rp 17.100. Hal ini dianggap sama saja dengan harga normal yang beredar di pasaran.
Unggahan yang disukai sebanyak lebih dari 179 kali oleh sesama pengguna Twitter itu pun menuai beragam komentar dari warganet.
"Kopi 65 juta bikin melek sebulan," tulis akun @jagadhj.
"Mark up harganya nggak ada otak," komentar @cringe_b0y.
"Macam DP rumah harga coretannya," ungkap @rizkygmahdi.
"Kopi 65 juta pas dibuka isinya joke mahal. Kopi kopi apa yang nyakitin, kopilih dia daripada aku," tambah @namastaek.
"Pantes aja tiap minum kopi deg degan terus, harga aslinya selangit," cuit @tautaumuncul.
Unggahan diskon tak masuk akal tersebut lantas viral di Twitter. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi