hitekno.com - Sebuah video viral di media sosial menampilkan penampakan tangga ekstrem yang bikin geleng kepala. Netizen terutama anak teknik sipil pun dibuat geleng kepala melihatnya.
Umumnya tangga dibangun untuk mempermudah seseorang berpindah posisi dari lantai bawah ke lantai-lantai di atasnya.
Tetapi sebuah video pendek yang viral di media sosial usai dibagikan oleh akun Instagram @infotekniksipil ini malah membuat susah penggunanya.
"Ekstrem," tulis @infotekniksipil menerangkan videonya dengan ekspresi tertawa, Rabu (09/09/2020).
Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, terekam seorang laki-laki sedang mencoba menaiki tangga ekstrem yang sangat curam.
Tidak hanya itu, sisi kanan dan kirinya tangga juga tidak dibuatkan pegangan untuk melengkapi aspek keamanan pengguna.
Lelaki berkaos loreng itu pun hanya mampu berjalan di anak tengga nomor tiga dan tidak bisa melanjutkan langkah kakinya.
Seperti dalam video yang viral di media sosial, ia pun hanya bisa memandang pintu ruangan yang ada di atasnya sambil tertawa kebingungan.
"Ono rego ono rupo, (ada harga, ada wujud -- red)," tulis pemilik akun @moko.wor****
"Orangnya yang salah. Itu jatah spidermen," celetuk @friendi****
"Widihh serasa manjat tebing," tambah @arham_*** dengan emoticon tertawa.
Video itu sendiri sebelumnya diunggah oleh akun Instagram @jattwadi_soch, sebagaimana watermark yang menempel di video tersebut.
Di unggahan aslinya, video yang diketahui berasal dari India tersebut telah disukai lebih dari 600 ribu pengguna.
Itulah video tangga ekstrem yang viral di media sosial, netizen hingga anak Teknik Sipil dibuat heran melihatnya. (Suara.com/ Hadi Mulyono).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi