hitekno.com - Pemilik usaha harus memiliki akal kreatif untuk memasarkan produknya. Banner warung makan yang "kelewat kreatif" ini sukses bikin netizen salfok.
Akun fanspage Facebook Isrina Sumia membagikan banner warung makan yang menawarkan produk ayam.
"Teknik marketing memang perlu, tapi nggak gini juga. Bukannya kenyang malah pusing. Ayo anak IPA, kita reuni di sini (emoticon tertawa)," tulis Isrina Sumia pada caption.
Postingan yang dibagikan berhasil viral di Facebook setelah memperoleh 6.800 tanda suka dan mendapat ribuan komentar dari netizen.
Banner di pinggir jalan ini menampilkan berbagai harga menu pada warung makan. Netizen langsung menyoroti deretan harga menu yang dituliskan dengan cara tak biasa.
Pembeli harus memecahkan soal perkalian, akar, kuadrat dan pembagian. Paha atau dada dibanderol "akar 49 ditambah akar 49" ribu.
Sementara paha atas dapat dibeli dengan harga "enam kali dua" ribu. Rupanya pembeli dapat memesan dada ayam dengan harga Rp 14 ribu dan paha atas seharga Rp 12 ribu.
Harga sate-satean dibanderol "akar empat" atau Rp 2 ribuan. Banner warung makan itu semakin viral di Facebook setelah dibagikan lebih dari 1.700 kali oleh netizen. Postingan viral ini memancing beragam komentar kocak.
"Gue jadi pusing woy," komentar Em** F**ah.
"Susah dimengerti semoga yang jualan punya mertua Si Sambo," canda R**ty C**by.
"Pemilik warung dulunya selalu angkat tangan nomor satu pas disuruh kerjakan soal matematika," pendapat H**i Co**el.
"Lapar auto ilang setelah lihat harganya," ungkap Mun**r*d. Itulah tadi banner warung makan yang bikin netizen salfok, bagaimana pendapat kalian?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi