hitekno.com - Amanda mantan pacar Mario Dandy Satrio akhirnya muncul di depan publik.
Gadis bernama lengkap Anastasia Pretya Amanda atau yang selama ini disebut dengan inisial APA datang ke Polda Metro Jaya.
Amanda mantan pacar Mario Dandy hadir bersama kuasa hukumnya pada Kamis (16/3/2023) siang ini.
Dalam kesempatan ini, Amanda menegaskan dirinya tak mengenal AG (15) dan membantah disebut sebagai 'pembisik' Mario Dandy Satriyo (20) hingga memicu penganiayaan terhadap David (17).
"Amanda atau APA ini tidak pernah kenal dengan AG. Tidak pernah ada kenal sama sekali," kata kuasa hukum Amanda, Enita Edyalaksmita.
Enita juga menyebut Amanda dan Mario sudah putus alias tidak lagi berpacaran sejak Oktober 2022. Namun pada 30 Januari 2023 lalu Mario sempat menemui Amanda di salah satu kafe bilangan Kemang, Jakarta Selatan.
Hanya saja, Enita mengklaim dalam pertemuan tersebut tidak ada pembahasan terkait AG ataupun David. Melainkan hanya sebatas bertanya seputar kabar.
"Nah saudara MDS ini datang menemui. Nah kemudian terjadilah percakapan percakapan. Sebenarnya terus terang aja Amanda sebenarnya keberatan untuk ditemui," ungkapnya.
Pada kasus penganiayaan ini, penyidik diketahui sudah menetapkan Mario dan Shane Lukas Rotua Pangondian Lumbantoruan (19) sebagai tersangka. Kemudian menetapkan AG (15) pacar Mario sebagai anak berkonflik dengan hukum atau pelaku.
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Ade Ary Syam sempat mengungkap bahwa motif Mario menganiaya David adalah karena diduga sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap AG. Perbuatan tidak menyenangkan ini diklaim diketahui Mario dari APA yang baru diketahui merupakan mantannya. (Suara.com)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi