Jum'at, 03 Februari 2023
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Selasa, 22 Mei 2018 | 12:49 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Hitekno.com - Tidak sengaja, para ilmuwan menciptakan enzim mutan yang bisa memecah sampah plastik seperti botol minuman.

Dilansir dari The Guardian, terobosan ini dapat membantu memecahkan krisis pencemaran plastik global dengan melakukan daur ulang botol plastik secara keseluruhan.

Penelitian yang dipimpin Prof John McGeehan ini didorong oleh penemuan pada tahun 2016 dari bakteri yang secara alami berevolusi untuk memakan plastik di tempat pembuangan sampah di Jepang.

Para ilmuwan kini telah mengungkap struktur terperinci dari enzim penting yang dihasilkan oleh serangga jepang.

Tim internasional kemudian mengurai enzim untuk melihat bagaimana enzim itu berevolusi, tetapi tes menunjukkan mereka secara tidak sengaja membuat molekul lebih baik dalam memecah plastik PET (polyethylene terephthalate) yang digunakan untuk botol minuman ringan.

"Yang sedikit mengejutkan, ternyata yang terjadi adalah kami memperbaiki enzim," kata Prof John McGeehan, di University of Portsmouth, Inggris, yang memimpin penelitian.

Enzim mutan membutuhkan beberapa hari untuk mulai memecah plastik, jauh lebih cepat daripada berabad-abad yang dibutuhkan di lautan.

Namun para peneliti merasa optimistis ini dapat dipercepat lebih jauh dan menjadi proses skala besar yang layak.

"Apa yang kami harapkan adalah menggunakan enzim ini untuk mengubah plastik ini kembali ke komponen aslinya, jadi kami benar-benar dapat mendaur ulang kembali ke plastik," kata McGeehan.

"Ini berarti kita tidak perlu menggali lebih banyak minyak dan, pada dasarnya, itu harus mengurangi jumlah plastik di lingkungan." tambahnya.

Penelitian ini diharapkan dapat segera diaplikasikan di dunia nyata sehingga waktu yang kita butuhkan bertahun-tahun untuk mengurai sampah plastik bisa dilakukan dalam waktu beberapa hari saja.

Hitekno.com/Rezza Dwi Rachmanta

BACA SELANJUTNYA

Gara-Gara Krisis Ini, Jerman Kembali ke Sumber Energi Primitif dan Tak Ramah Lingkungan