Senin, 30 November 2020
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Rabu, 30 Mei 2018 | 15:03 WIB

Hitekno.com - Sekitar 66 juta tahun yang lalu, sebuah Asteroid besar jatuh ke Bumi, memusnahkan tiga perempat dari tumbuhan dan hewan di planet ini dan memanaskan dunia selama 100.000 tahun.

Peristiwa ini sangat dramatis karena membunuh dinosaurus, tetapi bagaimana hal itu tidak membuat burung punah?

Kebakaran hutan besar akan menyapu seluruh dunia, jadi burung terbang yang bersarang di pepohonan tidak akan berhasil melewati peristiwa kepunahan massal.

Di sisi lain, kerabat kurang gesit mereka yang tinggal di dalam tanah berhasil selamat.

Dilansir dari iflscience, Sebuah tim ilmuwan yang dipimpin oleh palaentolog Daniel Field dari University of Bath, Inggris menganalisis catatan fosil tumbuhan.

Mereka menemukan bahwa tepat setelah dampak Asteroid, ada banyak arang dari pohon yang terbakar, bersama dengan spora pakis kecil, yang nantinya akan menggantikan hutan yang hilang.

Para peneliti juga menemukan bahwa banyak burung yang hidup menjelang akhir masa dinosaurus adalah penghuni pohon.

Namun nenek moyang terbaru burung yang hidup pada zaman sekarang mungkin tetap kerabat burung yang berada di tanah.

Tim ilmuwan menyimpulkan bahwa burung terbang pertama mati bersama dinosaurus, dan perilaku penghuni pohon berevolusi kemudian.

Bagaimana akhirnya burung dapat berevolusi untuk terbang sering diperdebatkan oleh para ilmuwan.

"Hari ini, burung adalah kelompok hewan vertebrata darat yang paling beragam dan tersebar luas di dunia-ada hampir 11.000 spesies yang hidup," kata Field dalam sebuah pernyataan.

Dia juga menambahkan hanya segelintir garis keturunan leluhur yang berhasil selamat dari peristiwa kepunahan massa K-Pg. 66 jutaan tahun yang lalu.

Field menjelaskan bahwa keanekaragaman burung hidup yang luar biasa hari ini dapat ditelusurusi dari generasi yang selamat pada saat itu.

Hitekno.com/Rezza Dwi Rachmanta

BACA SELANJUTNYA

Meski Punya Sayap, Kemampuan Terbang Dinosaurus Ini Lebih Buruk dari Ayam