Minggu, 15 Desember 2019
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Jum'at, 12 Juli 2019 | 17:45 WIB

Hitekno.com - Sebuah laporan terbaru dari PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) menyatakan bahwa bencana akibat perubahan iklim diketahui telah terjadi setidaknya seminggu sekali. Laporan tersebut sebagai peringatan keras bagi para ilmuwan dan masyarakat global agar tanggap dengan perubahan iklim yang terjadi.

Pada tahun 2018, lembaga penelitian resmi di bawah PBB, yaitu IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), menggambarkan konsekuensi bencana yang memungkinkan suhu rata rata-rata global melebihi 1,5 derajat Celcius, di atas tingkat pra-industri.

Dari data itulah, ilmuwan menyusun potensi dan keadaan di masa depan sebagai dampak perubahan iklim.

Penelitian mereka telah diterbitkan di jurnal PLOS ONE pada 10 Juli 2019.

Tak hanya makalah biasa, peneliti bahkan menyusun peta interaktif perubahan iklim yang bisa menggambarkan keadaan ratusan kota di seluruh dunia pada tahun 2050.

Penelitian dan peta interaktif disusun oleh ilmuwan yang ada di Crowther Lab, ETH Zurich University, Swiss.

Peta perubahan iklim di seluruh dunia. (Crowther Lab)

Sebelumnya, mereka juga telah menciptakan peta interaktif di mana kita bisa menanam 1 miliar pohon untuk mencegah perubahan iklim.

Dikutip dari IFLScience, peneliti menggunakan skenario "optimistik" yang menggambarkan 520 kota (dengan mitra iklim 2019) beserta iklim prediksi pada tahun 2050.

Karena itu merupakan skenario optimistik, maka skenario tersebut bisa lebih buruk lagi apabila industri semakin masif mengeluarkan karbon.

Dalam peta interaktif, kita bisa mengetahui keadaan suhu kota di masa depan (tahun 2050) akan sama dengan suhu kota yang berbeda saat ini (tahun 2019).

Misalnya, tahun 2050, Stockholm (suhu biasanya 14 derajat Celcius) tampak seperti Budapest di tahun 2019 (suhu 19 derajat Celcius).

Deretan kota yang terpapar perubahan iklim. (Jurnal PLOS One)

London yang biasanya kelabu dan dingin akan menjadi panas dan cerah seperti kota Barcelona di tahun 2019.

Berdasarkan penelitian, 77 persen kota yang diteliti diperkirakan mengalami "perubahan mencolok" yang mengubah iklim mereka menjadi lebih mirip dengan yang lain.

Sebanyak 22 persen kota yang diteliti (perkiraan dari kondisi iklim saat ini) diperkirakan akan mempunyai kondisi iklim yang tidak dialami oleh kota besar mana pun di Bumi.

Transformasi dramatis dialami kota-kota lintang utara Eropa. Kenaikan rata-rata suhu di musim panas dan musim dingin masing-masing sebesar 3,5 dan 4,7 derajat Celcius.

Terdapat juga banyak ketidakpastian, sebagian besar kota di daerah tropis akan mengalami kondisi iklim yang sejauh ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Peta perubahan iklim. (Crowther Lab/ UTH Zurich University)

Manaus, Kuala, Lumpur, Jakarta dan Singapura adalah beberapa kota yang masuk di antara 22 persen kota yang akan mengalami kondisi iklim yang "benar-benar berbeda".

Sebagian besar kota yang berada di prediksi 22 persen tersebut akan mengalami kondisi iklim baru.

"Itu adalah kondisi lingkungan yang tidak dialami daerah mana pun di planet saat ini. Itu juga berarti akan ada tantangan politik baru, tantangan infrastruktur baru, yang belum kita hadapi sebelumnya," kata Tom Crowther, pendiri Crowther Lab kepada Guardian.

Saat dicoba ditelusuri di peta interaktif, terlihat kota Jakarta akan mengalami kenaikan suhu 3,1 derajat Celcius di tahun 2050.

Peta interaktif perubahan iklim bisa diakses oleh masyarakat global secara gratis di situs ini.