Sabtu, 07 Desember 2019
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Rabu, 20 November 2019 | 19:45 WIB

Hitekno.com - Amerika Serikat ikut mewaspadai mengenai kinerja positif yang ditampakkan oleh produsen senjata di China. Menteri Pertahanan Amerika Serikat sampai ikut angkat bicara dalam menanggapi kabar bahwa drone buatan China menarik perhatian negara-negara di Timur Tengah.

Pada acara National Security Commission on Artificial Intelligence yang diselenggarakan awal November 2019, Menteri Pertahanan Amerika Serikat menyoroti perkembangan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) milik China.

"Seperti yang kita bicarakan, pemerintah China telah mengekspor beberapa drone udara militernya yang paling canggih ke Timur Tengah, saat ini mereka bersiap untuk mengekspor UAV siluman generasi berikutnya ketika telah siap," kata Mark Esper, selaku Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Ia mengakui bahwa China menjual drone yang mampu merenggut nyawa targetnya tanpa pengawasan manusia.

Berdasarkan laporan dari Defense One, perusahaan sekaligus produsen peralatan militer China, Ziyan, telah bersiap memasarkan Blowfish 3.

Blowfish A2 ketika membawa senjata berat. (Ziyan UAV)

Blowfish 3 adalah sebuah helikopter mini tanpa awak yang dilengkapi dengan senapan mesin.

Dalam situs resminya, Ziyan mengklaim bahwa drone pembunuh buatan perusahaan mereka dapat melakukan misi tempur yang lebih kompleks termasuk misi pengintaian, pelemparan granat, dan penyerangan secara presisi.

Greg Allen, Kepala Strategi dan Komunikasi di Joint Artificial Intelligence Center Departemen Pertahanan AS membuat makalah di CNAS pada Februari 2019.

Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa Ziyan sedang bernegoisasi untuk menjual Blowfish A2-nya kepada pemerintah Pakistan dan Arab Saudi.

Ilustrasi Ziyan Blowfish A3. (YouTube/ Ziyan UAV)

Dikutip dari Futurism, sang pendahulu Blowfish 3 didesain mirip helikopter mini dengan dimensi 1870 x 565 x 620 mm.

Drone pembunuh tersebut, dapat memiliki kecepatan jelajah rata-rata 70 hingga 90 kilometer per jam dengan kecepatan maksimum 130 kilometer per jam.

Dengan ketinggian maksimum 5100 meter, drone ini juga dapat membawa berbagai jenis radar kecil hingga senjata api berkaliber besar.

Zeng Yi, seorang eksekutif senior di NORINCO, perusahaan pertahanan terbesar ketiga di China, memprediksi bahwa medan perang di masa depan tidak akan ada manusia yang bertarung secara langsung.

Ia memperkirakan bahwa mulai tahun 2025, berbagai robot, UAV, hingga kapal selam yang dilengkapi AI bisa bertarung sendiri dengan pengawasan manusia dari jarak jauh.

Perkembangan drone pembunuh sepertinya mengindikasikan bahwa ramalan pejabat industri pertahanan tersebut akan semakin nyata.