Rabu, 15 Juli 2020
Agung Pratnyawan : Rabu, 01 Januari 2020 | 10:30 WIB

Hitekno.com - Ketika permukaan air laut makin meninggi karena pemanasan global, masalah lain juga tercipta. Yaitu potensi makin langkanya sumber daya air di Bumi. Dengan makin langka air minum, bisa berpotensi menciptakan konflik di masa depan.

Konflik dan kekerasan karena perebutan sumber daya air di dunia terus meningkat dalam satu dekade terakhir, demikian dicatat oleh Pacific Institute, sebuah lembaga thinktank yang berbasis di California, Amerika Serikat.

Secara umum konflik akibat air di seluruh dunia dipicu oleh semakin menipisnya suplai air minum di sebagian besar wilayah Bumi, akibat semakin padatnya jumlah manusia, buruknya manajemen air minum, dan perubahan iklim.

Air semakin langka

Tetapi secara khusus konflik akibat perebutan air pada 10 tahun terakhir dipantik terutama oleh serangan terhadap sistem pengairan sipil dalam perang saudara di Suriah dan akibat krisis air di India.

"Ketika air semakin langka, karena air adalah sumber daya yang sangat penting, orang akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka," kata Peter Gleick, pemimpin Pacific Institute seperti dilansir The Guardian.

Data yang dimiliki Pacific Institute menunjukkan bahwa konflik yang dipicu air meningkat dua kali lipat selama 10 tahun terakhir dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya.

Ilustrasi Air Minum. (Pixabay)

Pacific Institute menyusun data tersebut sejak 1980an dan isinya antara lain merekam konflik-konflik yang dipicu oleh perebutan air; penggunaan air sebagai senjata dalam konflik; dan bagaimana konflik mengganggu suplai air bagi masyarakat.

Di antara konflik-konflik tersebut beberapa yang paling berpengaruh adalah rusaknya pipa air di Horlivka, Ukraina akibat pengeboman pada Juni 2019 yang menyebabkan 3 juta orang mengalami krisis air minum.

Pada 2017, sebagai contoh lain, lima orang petani di India ditembak karena memprotes soal ketersediaan air. Sementara pada 2012, lembaga itu menyebut contoh di Indonesia, yakni penemakan konvoi mobil tangki di Papua.

Selain langkanya air minum, belakangan ada tren pemanfaatan air sebagai senjata dalam konflik atau perang. Ini terjadi secara khusus di Timur Tengah, khususnya Yaman, Suriah dan Irak.

Aleppo dan senjata air

Aleppo di Suriah adalah salah satu kota tempat terjadinya berkali-kali konflik yang memanfaatkan air sebagai senjata. Perang saudara di Suriah sendiri sudah pecah sejak 2011.

Di Aleppo, Suriah pada 2012 misalnya, serangan terhadap sebuah pipa air menyebabkan 3 juta penduduk mengalami krisis air parah.

Dua tahun kemudian pemerintah Suriah dituding telah mengebom jaringan pipa air di beberapa area yang dikuasai pemberontak.

Ilustrasi Air Minum. (Pixabay)

Sementara pada 2014, ISIS diyakini telah meracuni sumber air minum di Aleppo. Lalu pada 2015, kelompok militan Jabhat al-Nusra, yang diduga terkait dengan kelompok teror Al Qaida, dituduh mengebom jaringan pipa air dan menyebabkan lebih dari 100 warga Aleppo keracunan.

Pada tahun yang sama pesawat-pesawat tempur Rusia mengebom sebuah pusat pengelolaan air di Aleppo dan menyebabkan lebih dari 3 juta orang, demikian keterangan UNICEF, kehilangan akses atas air minum.

Sementara pada 2017, saat tentara pemerintah Suriah menyerbu Aleppo, ISIS dilaporkan telah membobol sistem pengairan dan menyebabkan banjir di kota tersebut untuk memperlambat gerak laju musuh.

"(Menyerang sistem/sumber air sipil) adalah pelanggaran atas hukum internasional. Infrastruktur air sipil sengaja disasar, berulang-ulang kali," ujar Gleick.

Sementara di India, sejak 2010 tercatat ada 31 konflik terkait air. Jumlah itu naik dari hanya 11 insiden di 10 tahun sebelumnya.

Pada Agustus lalu World Recources Institute, organisasi nirlaba yang khusus meneliti dan mengawasi sumber daya alam, termasuk air, mengatakan bahwa ada 17 negara - tempat 25 persen manusia hidup - berstatus sangat rentan mengalami krisis air. Dari jumlah itu, 12 di antaranya terletak di Timur Tengah.

Qatar termasuk dalam kategori yang paling streesed soal air - negara itu menggunakan 80 persen persediaan air minum setiap tahun untuk industri, pertanian, dan layanan publik. Ini mengakibatkan Qatar sangan rentan mengalami krisis air bersih. Di bawah Qatar ada Israel, Libanon, Iran, dan Yordania.

Itulah hasil laporan terbaru terkait konflik akibat air minum di sejumlah wilayah. (Suara.com/ Liberty Jemadu).