hitekno.com - Berbicara mengenai raksasa teknologi dunia, nama-nama seperti YouTube, Google, Facebook, hingga Apple akan langsung singgah di otakmu. Nah, kalau impian jadi tetangga raksasa teknologi dunia ini, pernah juga singgah di otakmu nggak? Jika iya, saatnya packing dan pindah ke Silicon Valley.
Silicon Valley adalah sebutan untuk daerah selatan San Fransisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Daerah ini menjadi kawasan penuh perusahaan teknologi dunia.
Kamu akan menemukan perusahaan YouTube, Google, Facebook, Twitter, hingga Apple tersebar di beberapa daerah seperti Menlo Park, Mountain View, Palo Alto, dan Sunnyvale.
Nama Silicon Valley ini pertama kali dicetuskan oleh Ralph Vaerst yang adalah seorang pengusaha sukses asal California. Namun, yang pertama kali memperkenalkan istilah ini pada media adalah Don Hoefler yang adalah teman Ralph.
Nama Silicon yang digunakan ini terkait dengan banyaknya perusahaan teknologi yang terlibat dengan industri semikonduktor dan komputer di daerah ini.
Silicon Valley menjadi daerah yang pertama kali melahirkan perusahaan-perusahaan ternama di dunia. Dua penemu Apple bahkan memulai ide gilanya dari sebuah garasi di daerah ini.
Steve Wozniak, sang pendiri Apple bersama rekannya berhasil menyelesaikan 50 komputer pertama mereka di lokasi ini.
Tidak hanya di Amerika, beberapa negara juga berlomba-lomba untuk menciptakan Silicon Valley versi daerahnya.
Salah satunya adalah Bangalore yang diklaim sebagai Silicon Valley milik India. Israel punya Silicon Wadi yang terletak di Tel Aviv. Tiongkok punya pusat tech di kota Shenzhen.
Gimana, tertarik menjadi tetangga raksasa teknologi dunia? Yuk pindah ke Silicon Valley.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi