hitekno.com - Transformasi digital di Asia kini memosisikan identitas sebagai infrastruktur krusial, tak lagi sekadar alat verifikasi semata.
Prabhuraj Patil, Senior Director Physical Access Control Solutions Asean & India Subcontinent HID, mengungkapkan bahwa seiring berkembangnya smart city dan digitalisasi kerja, sistem akses terintegrasi menjadi fondasi utama.
Di Indonesia, hal ini tercermin kuat dari evolusi identitas digital nasional, seperti registrasi nomor seluler berbasis biometrik yang masif.
Pergeseran menuju akses berbasis identitas membuat layanan lebih terhubung secara personal, meninggalkan ketergantungan pada kredensial atau lokasi tertentu.
Manajemen identitas tak lagi sekadar urusan tim TI, melainkan infrastruktur strategis pengatur otentikasi dan mobilitas, baik di dunia fisik maupun ranah digital.
Namun, banyak organisasi masih terjebak keterbatasan anggaran, menunda keputusan penting terkait keamanan identitas digital.
Penundaan ini membawa risiko ketika sistem fisik dan digital semakin menyatu, sementara kerangka akses lama sulit disatukan dalam skala besar.
"Jika akses menjadi landasan dari bagaimana sistem dan manusia beroperasi, apakah organisasi masih dapat menunda pengembangannya?" tegas Prabhuraj Patil.
Kini, akses mencakup fasilitas fisik, jaringan TI, platform cloud, hingga seluler yang berjalan secara real-time tanpa batasan domain yang jelas.
Laporan Industri Keamanan dan Identitas HID 2026 mencatat 84 persen organisasi di Asia Pasifik telah menerapkan atau sedang mengevaluasi sistem akses terintegrasi.
Di Indonesia, modernisasi Sistem Identifikasi Biometrik Otomatis (ABIS) dan Identitas Kependudukan Digital (IKD) oleh Dukcapil sejalan dengan pendekatan infrastruktur ini.
Ketika pembaruan sistem ditunda, celah operasional muncul, menciptakan inefisiensi dan menurunnya kepercayaan pengguna terhadap keamanan digital.
Kesenjangan antara operasional modern dan infrastruktur usang akan terus melebar, berisiko meningkatkan biaya jangka panjang serta merusak reputasi.
Merancang sistem yang tangguh mutlak memerlukan keamanan berbasis identitas yang mendukung stabilitas operasional jangka panjang organisasi.
Langkah ini mencakup adopsi otentikasi modern seperti kredensial seluler berpelindung biometrik, hingga sistem deteksi anomali berbasis kecerdasan buatan (AI).
Integrasi kontrol fisik dengan jaringan perusahaan memungkinkan penerapan kebijakan yang seragam dan pemantauan akses individu secara presisi.
Ke depannya, organisasi di Asia yang beralih dari solusi terfragmentasi ke platform identitas digital terintegrasi akan lebih tangguh dan terpercaya.
Penerapan kredensial seluler dan biometrik, yang kini telah diadopsi 49 persen organisasi APAC, terbukti meningkatkan keamanan tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna.
Berita Terkini
-
Registrasi SIM Berbasis Face Recognition Dinilai Berisiko, Pakar Ingatkan Ancaman Privasi dan Penyalahgunaan Data
-
5 Fakta BONDS, Perangkat Pemanas Tembakau dengan Inovasi Teknologi Baru
-
Keamanan Registrasi SIM dengan Face Recognition Masih Dipertanyakan Jelang 2026
-
Pengamat Ingatkan Risiko Face Recognition untuk Registrasi SIM, Operator Diminta Tak Simpan Data Wajah
-
Netflix Adaptasi Tiga Novel Dee Lestari menjadi Original Series