hitekno.com - Seolah tidak ketinggalan layaknya drama percintaan orang dewasa, kisah cinta segi empat bocah di Facebook ini sukses mencuri perhatian hingga membuat netizen pusing. Kok bisa ya?
Drama kisah cinta segi empat bocah di Facebook ini diunggah ke Twitter oleh pengguna dengan username @Hadeeeehhhhh pada Selasa (19/3/2019) lalu dan kemudian menjadi viral di Twitter.
Kisah cinta segi empat ini datang dari bocah bernama Andri, Nisa, Sin Tia, dan Alfian. Semua kisah panjang keempatnya bermula dari berbalas komentar di Facebook.
Usai melakukan update pada foto profil Facebook miliknya, Andri disapa oleh Sin Tia. Sapa-sapaan antara Sin Tia dan Andri ini rupanya membuat Isti berkomentar dan berspekulasi jika Andri dan Sin Tia berpacaran.
Dengan gamblang, Sin Tia mengaku jika dirinya sedang berselingkuh dengan Andri. Padahal dirinya baru saja berpacaran dengan Alfian.
''Ya allah aku ngakak g brenti2 gegara ngikutin ini drama...'' tulis netizen dengan akun @sukadikamar.
''kejombloanku menjerit jerit..'' komentar @DokMie. Sabar ya mblo!
''Wkwkwkkwkwkwk..... Iya. Gue nyerah dah sama tuh anak. Gue harus melakukan percobaan 669 kali utk ngunkapin perasaan ke cewek... Lah ini bocah malah ditembak duluan... Wkwkwkkwkwkw...... #Ngik'' ungkap akun @anto_winarno.
''tolong anak itu di ruqyah pasti sudah di masukin sama jin...cari pacar udah kayak minum air ajaaaa'' tulis netizen dengan akun @pergilamaa curiga.
Jadi gimana, sudah cukup pusing dengan kisah cinta Andri, Nisa, Sin Tia, dan Alfian belum?
Kisah cinta segi empat bocah di Facebook yang menjadi viral di Twitter ini sudah mendapat 20.743 retweets dan 1.700 komentar netizen.
Tag
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi