hitekno.com - Cuitan netizen dengan akun @tzky**** baru-baru ini menjadi viral di Twitter. Dalam cuitannya, netizen ini menghina Kaesang Pangarep yang ia sebut sudah meng-unfollow akun Twitter pribadinya. Aksinya menjadi viral, cuitan netizen ini bahkan ditanggapi oleh putra bungsu Presiden Jokowi.
Mengirimkan cuitan pada Jumat (12/7/2019) dengan mention akun @kaesangp, netizen ini menyebut jika putra bungsu Jokowi ini kebelet jadi selebtweet.
Cukup pedas dengan berbagai kata-kata kasar, netizen ini menyebut jika saling follow dengan Kaesang Pangarep tidak berguna.
Selain karena di-unfollow, tidak diketahui dengan pasti apa yang membuat netizen ini begitu geram hingga mengirimkan cuitan berisi kata-kata hinaan untuk Kaesang Pangarep ini.
Menutup cuitan pedasnya untuk Kaesang Pangarep, netizen dengan akun @tzky**** ini terus menuliskan kata-kata hinaan sambil mengunggah screenshot saat dirinya akhirnya memblokir akun Twitter Kaesang Pangarep.
''Kebelet jadi selebtwit ya n****? Makasi ya atas unfoll-nya, gaguna juga punya mutual kek lu. F** yu @kaesangp p***..'' tulis @tzky**** dalam cuitannya.
''Haaaaaaaaaaah?????'' tulis @kaesangp.
''cuma dia anak presiden yang bisa dihina cuy :"'' tulis netizen dengan akun @onlyforawhile.
''makanya jualan sang pisang aja jangan jadi selebtwittttt..'' komentar akun @saveeeen memberi saran untuk Kaesang Pangarep.
''ya gimana lagi namanya juga makhluk yang hidup di negara berflower seperti +62 ini..'' ungkap akun @nct890 mencoba memaklumi.
Hingga artikel ini dibuat, netizen yang menghina Kaesang Pangarep karena meng-unfollow akunnya ini masih belum memberi tanggapan terkait balasan mention yang ia dapat tersebut.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi