hitekno.com - Masa sekolah adalah masa di mana sebagian dari kita masih polos sehingga hal-hal lucu kerap terjadi. Sebuah unggahan ini viral di Facebook setelah memperlihatkan sebuah puisi yang sangat kocak dan jujur.
Sebuah fanspage Facebook dengan nama Kementrian Humor Indonesia membagikan unggahan kocak mengenai sebuah puisi anak sekolahan.
Unggahan yang dibagikan berhasil viral di Facebook setelah mendapatkan lebih dari 9.200 Like dan ratusan komentar.
Tak hanya itu, postingan makin viral setelah dibagikan lebih dari 1.300 kali.
Postingan tersebut memperlihatkan sebuah puisi kocak yang sangat polos sehingga membuat orang geleng-geleng kepala.
Tampaknya, siswa itu diberi tugas untuk membuat puisi dengan tema bebas oleh gurunya.
Beberapa penggalan kata dalam puisi tersebut adalah "Pusing..Guruku memberi tugas..Tugasnya susah sekali..Kepalaku..Pikiranku..Sungguhlah Pusing..Oh Pusing, pergilah dari kepalaku".
Di bawahnya, terdapat penilaian oleh sang guru yang ditambahi dengan caption kocak yaitu "Semoga cepat sembuh".
Tak hanya mendapatkan caption kocak, siswa yang mempunyai tema pusing di dalam puisinya itu justru mendapatkan nilai A+.
Masih belum jelas apakah puisi tersebut hanyalah parodi atau pun benar-benar dibuat oleh siswa yang "jenius".
Terlepas dari hal itu, banyak netizen yang terhibur sehingga memberikan beragam komentarnya atas puisi kocak di atas.
"Apa yg anda pikirkan...pusing...jadi itu puisinya," tulis Mas Bowo.
"Aowkaowkoawk, gua dulu bikin jokes kek gitu distrap walaupun guru gua pada ketawa," kata Willy E.
Itulah tadi puisi kocak yang sangat polos dan menghibur sehingga viral di Facebook, bagaimana pendapat kamu?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi