hitekno.com - Media sosial Twitter baru-baru ini mengungkapkan telah menghapus sebanyak 115.861 akun yang diduga mempromosikan terorisme.
Pada laporan transparansi enam bulan antara Januari hingga Juni, Twitter menyatakan jumlah permintaan dari pemerintah untuk data pengguna berada pada rekor tertinggi.
Dilansir dari laman Tech Crunch, dalam jangka waktu tersebut terdapat 7.300 permintaan. Jumlah ini meningkat sebanyak 6 persen dari tahun sebelumnya.
Dari jumlah pemerintah yang meminta data pengguna, Amerika Serikat jadi negara dengan permintaan terbanyak.
Padahal Jepang hanya memiliki 1742 akun dari permintaan 2445 akun.
Media Sosial milik Jack Dorsey ini mengungkapkann terdapat tiga surat keamanan nasional atau nasional security letters (NSLs) yang bisa memaksa perusahaan menyerahkan data non-konten pada FBI, tetapi surat tersebut tak disetuji hakim.
Laporan tersebut mengungkapkan adanya kenaikan jumlah informasi pribadi, media sensitif hingga konten mengandung kebencian.
Karena hal tersebut, Twitter mengklaim media sosialnya terus mengambil tindakan.
Selain menghapus ratusan ribu akun yang mempromosikan terorisme, Twitter juga menghapus 244.188 akun yang melakukan pelanggaran berkaitan eksploitasi seksual pada anak.
Berita Terkini
-
Mengenal Gauth AI, Bantu Siswa dari Mencari Jawaban hingga Menguasai Pelajaran
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana