hitekno.com - Beragam layanan jasa bermunculan mengambil kesempatan yang ada. Termasuk satu layanan jasa anti mainstream yang jadi sorotan netizen ini.
Layanan jasa yang tersedia di Indonesia saat ini sangat beragam. Para penyedia jasa pun berlomba-lomba mempromosikan layanannya melalui cara apapun, salah satunya adalah memasang iklan berupa selebaran kertas.
Belakangan, viral di media sosial sebuah iklan jasa anti mainstream yang diklaim menjadi jasa pertama di Indonesia.
Dibagikan oleh akun Twitter @rndy11 pada 21 Januari, ia mengunggah foto yang memperlihatkan sebuah kertas iklan yang tertempel di tiang listrik.
Tidak seperti kertas iklan lainnya yang memiliki desain heboh dan menarik, kertas ini hanya berupa kertas HVS polos yang ditulisi kalimat sederhana.
Tulisan dalam kertas iklan tersebut berbunyi, "Pertama di Indonesia! Pernah keliru berdoa? Hub: Mas Rommi. Terima jasa 'ralat doa'."
Tetapi anehnya, iklan tersebut tidak mencantumkan nomor kontak yang dapat dihubungi layaknya iklan jasa lainnya.
Unggahan yang telah dibagikan sebanyak lebih dari 3.600 kali ke sesama pengguna Twitter ini pun menuai beragam komentar dari netizen.
"Mas Rommi tolong aku yang sering keliru baca doa tidur pas mau makan," tulis akun @Nindykf.
"Apakah ini kursus pronunciation? Atau jasa unsend doa?" komentar @ErioFranggidae.
"Ada gitu ya. Jadi keinget dulu pernah minta didekatkan sama orang dan sampe sekarang cuma deket doang, pacaran kagak," tambah @Putriamndm.
"Nomernya mana woy," ungkap @andresapoetraa.
"Punya channel orang dalem nih mas Rommi," cuit @batunggg_.
Itulah iklan layanan jasa anti mainstream yang viral di media sosial setelah menjadi sorotan netizen. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi