hitekno.com - Salah satu layanan aplikasi ojol yang populer yaitu memesan makanan melalui aplikasi, customer hanya perlu menunggu pesanannya diantarkan.
Bicara soal driver ojol, belum lama ini netizen digemparkan dengan sebuah tangkapan foto percakapan anatara pelanggan dan pengemudi ojek.
Dihimpun Guideku.com dari akun Twitter @MajelisLucuTwit, awalnya si pelanggan terlihat baru saja memesan 6 buah donat dan minta diantarkan ke rumahnya.
Karena di awal dirinya memesan donat dengan rasa berbeda, berapa terkejutnya si pelanggan ketika makanan yang dipesannya tiba.
"Bang ini donat kok sama semua, kan saya pesannya campur," begitu kurang lebih awal percakapan antara si pelanggan dan driver ojol.
"Sesuai aplikasi kak nggak mungkin saya buka dusnya," balas si driver ojol.
Usut punya usut, ternyata si pelanggan terbalik ketika membuka satu kotak donat yang dibelinya tersebut.
Sehingga yang terlihat hanyalah bagian belakang seluruh donat berwarna senada yakni cokelat muda.
Benar saja, sang pelanggan merasa malu dan minta maaf kepada driver ojol tersebut.
Mendadak viral, tidak sedikit netizen yang tertawa sekaligus emosi ketika melihat tangkapan layar chat antara pelanggan dan driver ojol itu.
"Pulang mas, kamu malu-maluin nama keluarga aja," sebut salah seorang netizen.
"Wkwkwkw nggak bisa bedain mana depan mana belakang dong," imbuh netizen lainnya.
"FIX ini lucu," timpal netizen lain menanggapi cuitan soal salah sangka ketika beli donat itu.
Hingga artikel ini ditulis, cuitan soal pelanggan salah sangka dengan driver ojol gara-gara donat tersebut telah mendapatkan 15 ribu lebih likes dan 6 ribu retweet dari netizen.(Guideku.com/Arendya Nariswari)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi