hitekno.com - Aksi YouTuber Ferdian Paleka yang melakukan prank sembako untuk transpuan berakhir dikecam oleh netizen. Belum lama ini, YouTuber Chandra Liow turut memberikan sindiran pedasnya pada Ferdian Paleka. Cukup unik, Chandra Liow menggunakan skill keren begini.
Penggalan video sindiran pedas Chandra Liow untuk Ferdian Paleka ini diunggah dan menjadi viral di Twitter oleh pemilik akun @snowflokee pada Rabu (6/5/2020) lalu.
"Ini baru yang namanya ngehujat pakai skill wkwkwk" tulis cuitan @snowflokee.
Menggunakan skill editing yang ciamik, Chandra Liow bersama dua temannya mengungkap apa yang ada pada diri Ferdian Paleka dan temannya secara fisik dalam video prank sembako untuk transpuan tersebut.
Dalam video 'Reaksi Editor Indonesia 16' yang diunggah di channel tim2one ini, Chandra Liow dan rekan-rekannya memberikan sindiran sarkas ala editor Indonesia untuk konten Ferdian Paleka.
Skill editing super keren yang digunakan Chandra Liow sebagai sindiran untuk Ferdian Paleka ini lalu mendapat berbagai komentar netizen yang dibuat takjub dengan video ala Chandra Liow ini.
"Roasting with Word = sudah biasa. Roasting with editing skill = expert and super nice" tulis netizen dengan akun Fauzy Gaming.
"Hahaha ini baru namanya bener content creator gilaa ketawa saya terasa dibayar mahal banget" balas akun Phil Boy.
"Ya Ampun, ini keren banget, ngehujatnya dengan talent dan anti mainstream. Keren bang, ngakak juga btw wkwkwk" komentar akun Melani Sukma.
Di YouTube, hingga artikel ini dibuat, video unggahan tim2one yang berisi sindiran Chandra Liow untuk Ferdian Paleka ini telah ditonton sebanyak lebih dari 1,3 juta kali.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi