hitekno.com - Sebuah kisah pilu yang dibagikan akun @sayidmachmoed mengenai seorang anak laki-laki di makam menjadi viral di Twitter belum lama ini. Membuat netizen terharu, thread ini disebut mengandung terlalu banyak bawang.
Cuitan mengenai kisah seorang anak laki-laki yang berkunjung ke makam ini menjadi viral di Twitter usai diunggah @sayidmachmoed pada Minggu (24/5/2020) lalu, tepat pada momen lebaran.
Dalam kisah tersebut, dikisahkan seorang anak laki-laki bernama Adam yang berkunjung ke makam ibunya. Duduk sendirian, anak laki-laki ini mencoba menahan tangis saat menyapa almarhum ibunya.
Mengunjungi sang ibu, Adam rupanya membawa kabar gembira. Mengaku lancar menjalankan ibadah puasa, tangis anak laki-laki ini pecah saat berkisah mengenai teman-temannya yang mendapat hadiah karena mampu melewati puasa.
''Nenek bilang baju Adam masih bagus semua. Makanya Adam nggak beli.” Tersenyum getir. Padahal, hatinya bergetar. “Kalo Ibu gimana? Apakah Allah memberikan baju baru?'' cuit @sayidmachmoed berkisah.
Diakhir kunjungannya ke makam ibu dan ayahnya, anak laki-laki ini menyampaikan ucapan selamat lebaran sebelum kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah ini, kisah pilu anak laki-laki di makam ini sukses membuat netizen terharu hingga meninggalkan berbagai komentar sedih.
''Sepertinya bawangnya kebanyakan'' balas netizen dengan akun @DianUsada.
''Terima kasih, saya menangis. Selamat Hari Raya Idul Fitri'' ungkap pemilik akun @madedianpp.
Hingga artikel ini dibuat, unggahan mengenai kisah pilu seorang anak laki-laki di makam ini telah mendapatkan lebih dari 1.900 retweets dan ratusan balasan dari netizen.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi