hitekno.com - Candaan mengenai "dicoret dari KK (kartu keluarga)" akrab kita dengar di tongkrongan. Netizen dibuah heboh dengan sebuah pengumuman di koran mengenai seorang pria yang dicoret dari KK.
Rupanya, seorang ibu yang berasal dari Medan ini membuat pengumuman mengenai "Pernyataan Putus Hubungan".
Pada sebuah iklan di koran, terlihat sang ibu tak lagi mengakui sang anak karena alasan tertentu. Foto pernyataan tersebut dibagikan ulang oleh fanspage Twitter @menteridigital.
Postingan yang dibagikan viral di Twittter setelah mendapatkan 2.700 Retweet dan 12.900 Like.
Banyak fanspage lain, salah satunya akun Facebook Kementrian Humor Indonesia yang ikut membagikan postingan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa segala tingkah laku sang anak sudah di luar tanggung jawabnya. "Sejak pernyataan ini dimuat, segala tindak tanduknya di luar adalah tanggung jawab dirinya sendiri," tulis salah satu iklan di koran tersebut.
Namun ada juga yang menilai sang anak cukup nakal sehingga ortunya sampai membuat surat pernyataan putus hubungan di koran.
Kabar mengenai seorang pria yang dicoret dari KK ini mendapatkan beragam komentar dari netizen.
"Pasti abis mecahin Tupperware emaknya..hehe," balas Afrizal.
"Ini syarat untuk terputus hubungan secara perdata. Jadi kalau anaknya banyak hutang terus kabur, ortunya nggak bisa ditagih," cuit @diazmr.
"Kejadian kaya gini biasanya sang anak punya utang di mana-mana, atau masalahnya banyak. Jadi biar keluarganya nggak kesandung masalah, jadilah diumumin mereka gak ada hubungan lagi," tulis Lia.
Itulah tadi postingan viral mengenai pria yang dicoret dari KK, bagaimana pendapat kamu?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi