hitekno.com - Raden Roro Ayu Maulida Putri atau yang lebih dikenal sebagai Ayu Maulida, menjadi wakil Indonesia untuk ajang Miss Universe 2020 telah mncuri perhatian netizen berkat kostum Komodo Dragon yang dikenakannya.
Dalam ajang Miss Universe 2020 yang diselenggarakan di Florida, Amerika Serikat, Kamis 13 Mei 2021 waktu setempat, para kontestan menampilkan kostum nasional masing-masing.
Termasuk perwakilan Indonesia, Ayu Maulida yang tampil dengan mengenakan kostum Komodo Dragon yang terinspirasi dari reptil Komodo yang menjadi satwa asli Indonesia.
Melalui postingannya di Instgram @ayumaulida97, gadis kelahiran Surabaya, 11 Juli 1997 ini mengungkap berbagai hal di balik kostum unik yang dikenakannya dalam ajang Miss Universe 2020.
Kostum Komodo Dragon ini hasil kolaborasi dengan desainer Diana M Putri dan Diana Couture, bersama desainer aksesori Yuling Hoo dan Silvy Prajogo dari Le Ciel Design.
Bagaimana penampilan Ayu Maulida dengan kostum Komodo Dragon ini mendapatkan beragam respon netizen. Bahkan sampai menempati trending topik Twitter Indonesia, Jumat (14/5/2021).
"Jujur ya, merinding liat eksekusinya. Gue suka banget pas Ayuma ngelirik ke kamera dan momen lampu stage mati. Eksekusinya sempurna." komentar netizen.
"amazing komodo dragon," ungkap lainnya.
"Komodo Dragon Go Internasyenel," balas lainnya.
Saking banyaknya cuitan netizen, kata Komodo Dragon menempati trending topik Twitter Indonesia. Banyak yang salut dengan kostum yang dikenakan Ayu Maulida dalam ajang Miss Universe 2020 tersebut.
Itulah beragam reaksi netizen yang heboh dengan penampilan Ayu Maulida dengan kostum Komodo Dragon di ajang Miss Universe 2020.
Tag
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi