hitekno.com - Banyak netizen yang meminta wajahnya diedit kembali agar foto yang dihasilkan terlihat lebih bagus. Sama halnya dengan pria satu ini.
Belum lama ini, seorang pria meminta agar hasil pas foto miliknya diedit lebih dulu. Pria tersebut meminta edit foto di bagian jidat.
"Bang, editin biar jidat gue nggak terlalu lebar," tulis permintaan pria yang membutuhkan bantuan jasa edit foto tersebut.
Lewat unggahan TikTok, akun @victorahmadd lantas menunjukkan proses dirinya mengedit foto yang dimaksud. Video unggahannya lantas menjadi viral.
Pada video tersebut, tampak jika pemilik akun @victorahmadd berusaha memindah posisi mata, hidung, dan bibir pria di foto.
Dengan menggunakan aplikasi Photoshop, akun @victorahmadd menaikkan posisi mata, hidung, dan bibir. Hal ini dilakukan untuk menutupi area jidat.
Unggahan itu sendiri telah ditonton hingga 13,1 juta kali sejak dibagikan. Bukan hanya viral, hasil edit foto tersebut juga banjir komentar.
"Ketika minta harga teman," ujar salah satu komentar warganet yang kini telah disukai 62,6 ribu kali.
"Keren ngab teruskan bakatmu," tambah yang lain.
"Jadi kasian bang jidatnya berambut."
"Tapi abangnya ga salah juga sih," tulis komentar lainnya menambahkan.
"Mengapa jadi seperti Squidward."
"Wow akhirnya ada kembaran emotikon batu."
''Squidward?'' tulis salah satu netizen.
"Yang dikasih dari lahir itu emang udah sebaik-baiknya," tulis komentar lain setelah melihat hasil foto tersebut.
Selain ditonton 13,1 juta kali, video unggahan @victorahmadd tersebut juga sudah disukai 892,5 ribu kali.
Unggahan video edit foto tersebut mendapat lebih dari 23 ribu likes dari pengguna TikTok. (Suara.com/Amertiya Saraswati)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi