hitekno.com - Banyak makanan yang kini dijual versi ekonomis dan murah. Tentunya dengan mengurangi porsi dan menggunakan bahan-bahan yang tak premium.
Salah satu contohnya seperti yang dibagikan melalui akun Instagram @_sadfood. Dalam unggahan itu, seorang pria bercerita baru saja membeli kebab mini dengan harga murah namun berakhir kecewa.
Rupanya yang membeli kebab itu adalah sang ibu. Kebab mini itu dijual lewat iklan Facebook dengan harga murah.
Satu kotak isi delapan kebab itu dibanderol dengan harga Rp10 ribu saja. Di iklan itu, juga sudah disebutkan bahwa kebab yang dijual berukuran mini.
Saat sampai ternyata plastiknya sangat ringan. Mereka kemudian membuka kenan tersebut dan tertawa melihat kebab yang tipis dan dagung yang sangat sedikit.
"Dan akhirnya kita ketawa sendiri waktu unboxing bungkusnya. Ternyata kebabnya tipis banget kayak kartu kredit, dagingnya malah lebih mirip whiskas sih," ungkap pria ini saat berbagi cerita.
Meski sempat kecewa karena tak sesuai ekspektasi, akhirnya ia dan sang ibu memakluminya karena harga yang sangat murah.
Unggahan ini kemudian menarik banyak perhatian warganet. Beragam komentar memenuhi unggahan ini.
"Ya segitu mah murah dan wajar. Apanya yang sad? Suka ngadi ngadi aja. Jangan terlalu lebay ah, kebab frozen emang gitu. Aku juga suka beli di frozen food, lumayan buat cemilan," komentar seorang warganet.
Warganet lain ikut berkomentar. "Harganya murah banget tapi bener jadi bikin nggak tega makan. Mending harganya lebih mahal dikit atau isinya dikurangin tapi bentukannya nggak sekejam itu deh kayaknya," ujar warganet ini.
Unggahan potret kebab mini ini sudah disukai sebanyak lebih dari 6 ribu akun di Instagram. (Suara.com/Hiromi Kyuna)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi