hitekno.com - Viral di media sosial, video yang menampilkan ibu-ibu sedang membuka amplop usai hajatan selesai digelar.
Video viral di media sosial itu ramai jadi sorotan netizen setela diunggah oleh akun Instagram @Makassar_iinfo, Selasa (3/8/2021).
Dalam rekaman, terlihat 9 ibu-ibu sedang membuka tumpukan amplop di sana.
Mengenakan setelan daster santai, mereka membagi tugas mulai dari membuka amplop sampai merekap hasilnya.
"Buka amplop check," tulis sang pemilik akun sebagai keterangan videonya.
Ibu-ibu selanjutnya menghitung dan merapikan uangnya. Terlihat tumpukan uang berwarna merah dan juga biru.
Uang-uang tersebut bernilai Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Dari keterangan suara yang ada di video, pemilik hajat berasal dari suku bugis.
Menurut keterangan unggahan, ibu-ibu tersebut mencatat jumlah sumbangan para tamu undangan agar dapat membalas mereka dengan jumlah yang sama.
"Balik modal," ujar netizen.
"Paling sibuk tante-tantenya nih pasti," canda netizen.
"Sama sih akupun di Sunda yang amplop dan kado ditulis berapa dan isinya apa, suatu hari dia nikah kita kasih setara atau diatasnya," ucap netizen.
"Aku nikahan nggak sampai yang ngitung uang nya se-RT," tambah yang lain.
"Dicatetin kalo yang kondangan gede nanti dibalikin kalo dia hajatan lagi," tutur netizen.
"Yaps betul saya aja masih ada itu di buku tamu nama-namanya ada juga tanpa nama dan amplop kosong," tutur netizen.
"Paling seru klau ada yang kasi masuk amplop trus isinya, anda belum beruntung atau uang seribu sja isinya. Wkwk," canda netizen.
Itulah video viral di media sosial, ibu-ibu buka amplop sambil mencatat nama dan jumlah sumbangan yang diterima hingga jadi sorotan netizen. (Suara.com/ Aulia Hafisa).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi