hitekno.com - Dalam rangkamerayakan ulang tahun Google ke-21, halaman depan mesin pencari memberikan gambar lucu. Yakni melalui Google Doodle ditampilkan kue ulang tahun cokelat.
Perubahan tampilan Google Doodle ini ditampilkan hari ini, Senin (27/9/2021).
Google Doodle tersebut menunjukkan kata "Google" yang dilapisi frosting atau lapisan gula dan taburan meses berwarna-warni.
Sementara huruf "L" pada kata tersebut membentuk lilin yang menyala di atas kue dua tingkat dan memiliki angka 23 pada tingkat teratas.
Jika pengguna membuka halaman resmi Google doodle, itu akan bergerak seperti animasi.
Kue memiliki wajah kartun, akan mengeluarkan tangan untuk mengangkat tingkat teratas kue seperti topi, seolah-olah menyapa.
Google dibangun oleh Sergey Brin dan Larry Page pada 1998 dari kamar asrama keduanya, bertujuan membangun mesin pencari berisi kumpulan informasi berukuran besar.
Kini, setiap hari ada miliaran pencarian di Google dalam lebih dari 150 bahasa di seluruh dunia.
"Meskipun banyak yang telah berubah dari masa-masa awal Google, mulai dari server pertamanya bertempat di lemari yang terbuat dari balok mainan ke servernya yang sekarang ditempatkan di lebih dari 20 pusat data secara global, misinya untuk membuat informasi dunia dapat diakses oleh semua orang tetap sama," tulis Google dalam laman resmi Google doodle.
Selain di Indonesia, Google doodle merayakan ulang tahun ke-23 juga muncul di seluruh dunia.
Ketika mengklik ikon doodle di halaman awal pencarian, kamu akan disuguhkan beragam informasi mengenai Google itu sendiri.
Itulah perayaan ulang tahun Google ke-23 melalui tampilan Google Doodle yang imut. (Suara.com/ Lintang Siltya Utami).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi