hitekno.com - Foto lawas mengenai wajah masa muda artis senior kerap menarik perhatian netizen. Kolase foto mengenai artis yang eksis dari tahun 1970-an ini sukses bikin netizen salfok.
Akun fanspage Instagram @temannostalgia membagikan postingan yang memperlihatkan transformasi seorang artis. "Transformasi, mpok Yati Surachman dari masa ke masa," tulis @temannostalgia dalam keterangannya.
Wajah di dalam foto cukup familiar mengingat artis tersebut kerap berperan pada banyak sinetron di Indonesia. Yati Surachman merupakan seorang artis senior yang berkiprah dari tahun 1970-an.
Ia sudah membintangi deretan film berjudul Anjing-Anjing Geladak, Buaye Gile, Putri Solo, dan Syahdu dari tahun 1972 hingga 1975.
Yati Surachman bahkan pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best Actress dalam Festival Film Asia Pasifik di tahun 1980 berkat perannya dalam film berjudul Perawan Desa.
Ia kerap tampil di sinetron dengan memainkan peran sebagai pembantu, orang susah, dan karakter nenek-nenek. Foto yang memperlihatkan transformasi Yati Surachman dari masa ke masa ini sukses bikin netizen salfok.
Tak sedikit netizen memuji bahwa Yati Surachman memiliki paras yang sangat cantik di masa muda. Beberapa netizen mengapresiasi dedikasi Yati Surachman karena telah menemani mereka dari zaman SD.
"Muda jadi model, tuanya jadi pembantu," kata @ahm**rizk**898.
"Artis kawakan bisa melakoni berbagai karakter," puji @de**ha**arais.
"Apapun sinetronnya dia jadi pembantunya," tulis @ko**dicky**ensei.
"The Legend sejak gue masih SD. Semoga sehat mpok," balas @sy**ul**4. Itulah tadi foto transformasi artis yang pernah eksis dari tahun 1970-an, bagaimana pendapat kalian?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi