hitekno.com - Rafathar sering disebut "bocah sultan" oleh netizen karena kemewahan yang mengelilinginya. Video yang memperlihatkan prediksi biaya sekolah Rafathar ini sukses menarik perhatian netizen.
Anak dari Raffi Ahmad dan Nagita Slavina diketahui bersekolah di ACS Jakarta. Itu adalah salah satu sekolah bertaraf internasional yang cukup terkenal.
Akun TikTok @almars.ars membagikan video saat ia menelusuri situs resmi ACS Jakarta. Dilihat dari video, prediksi biaya sekolah Rafathar yang masih SD itu bahkan lebih besar dari biaya perkuliahan kedokteran dan S2.
"Ada cilok nggak ya di depan sekolahnya?" tulis akun @almars.ars pada caption-nya. Postingan video yang dibagikan berhasil viral setelah ditonton lebih dari 904 ribu kali dan memperoleh 37 ribu tanda suka.
"Iseng lihat biaya sekolah Tuan Muda Andara. Wow, biaya daftarnya segini. Biaya sekolahnya wow juga. Ini apa? Mungkin les ya? Ini, pakai dolar, jadi pengen balik ke sekolah lagi," bunyi keterangan di dalam video.
"Biaya yang disebutkan di atas adalah setiap tahun, tidak dapat dikembalikan, tidak dapat dipindahtangankan jika siswa keluar selama tahun akademik," bunyi keterangan dari situs resmi ACS Jakarta pada penjelasan terkait biaya sekolah.
Ada pula biaya lainnya seperti kamp dan biaya ujian eksternal. Semua siswa Kelas 5,7,9, dan 11 wajib menghadiri satu kamp pendidikan utama setiap tahunnya.
"Sungguh menghibur kemiskinanku," kata @a**h*e.
"Ambil aja Rp 190 juta per tahun, kalau sampai kelas 6 SD berarti kali 6. Biayanya sampai Rp 1,14 M (emoticon kaget)," ungkap @nj**ha**ers.
"Ginjalku langsung bergoyang," canda @ultr**an_id*. Postingan video viral mengenai prediksi biaya sekolah Rafathar bisa dilihat melalui LINK INI.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi