hitekno.com - Kita sering jengkel apabila mengisi daya smartphone karena membutuhkan waktu berjam-jam. Namun kamu tak perlu panik, sebuah penelitian terbaru menunjukkan smartphone masa depan bisa dicharge dengan hitungan menit.
Para ilmuwan telah menemukan sebuah material baru yang disebut dengan niobium tungsten oksida. Material tersebut dipredikasi akan menggantikan material yang biasa digunakan oleh baterai smartphone kebanyakan.
Baterai terdiri dari elektroda positif, elektoda negatif, dan elektrolit. Ketika baterai dicolokkan ke sumber listrik, ion lithium diekstrak dari elektroda postif.
Setelah diekstrak, ion tersebut akan berjalan melalui struktur kristal untuk disimpan ke dalam elektoda negatif.
Dilansir dari Newsweek, para ilmuwan yakin bahwa niobium tungsten oksida akan menjadi kunci di masa depan.
Bahan itu akan menjadi faktor penting yang harus digunakan di smartphone, tablet maupun laptop masa depan. Selain itu, niobium tungsten oksida juga ramah lingkungan.
"Kami selalu mencari bahan dengan kinerja baterai tingkat tinggi, yang akan menghasilkan muatan yang jauh lebih cepat dan juga bisa memberikan output daya tinggi," kata Kent Griffith sorang peneliti di Departemen Kimia Universita Cambridge.
Dalam tes percobaan, para ilmuwan menemukan ion-ion litium bergerak melalui oksida lebih cepat daripada material yang biasa digunakan untuk elektroda.
Dengan reaksi tersebut, baterai smartphone bisa diisi dengan hitungan menit.
Oksida juga mudah dibuat dan mudah terukur bagi produsen baterai smartphone.
Smartphone masa depan diprediksi akan banyak menggunakan material tersebut, sehingga pengisian daya akan menjadi lebih cepat.
Berita Terkini
-
7 Fenomena Langit Agustus 2026, Hujan Meteor hingga Gerhana Matahari
-
Indonesia Terancam Kehilangan Pengetahuan yang Selama Ratusan Tahun Menjaga Alam
-
Bukan Sekadar Hiburan, Ternyata Film Horor Bisa Latih Mental Hadapi Stres
-
Ilmuwan Temukan Topeng dan Cangkir Berusia 5.000 Tahun, Terbuat dari Tulang Manusia
-
BMKG Ungkap Biang Kerok Cuaca Panas, Musim Pancaroba dan Posisi Matahari Jadi Alasan