Senin, 23 September 2019
Agung Pratnyawan | Rezza Dwi Rachmanta : Minggu, 18 Agustus 2019 | 19:30 WIB

Hitekno.com - Tak mengherankan apabila Elon Musk mengeluarkan sesuatu yang sangat kontroversial (atau berguna?) di dunia teknologi. Salah satu orang terkaya di dunia ini kembali memantik spekulasi penggemarnya setelah ia berencana mengebom nuklir Mars.

Elon Musk, pengusaha di bidang teknologi (pemilik Tesla dan SpaceX) yang mempunyai harta 19,3 miliar dolar AS atau Rp 275 triliun dan masuk list Forbes Billionaires 2019 nomor 40 (Agustus 2019) membuat ilmuwan atau manusia mungkin terkaget-kaget dengan rencananya.

Ia mencuitkan dua kalimat sederhana namun mempunyai banyak makna di akun Twitter resminya.

Pada hari Jumat (16/08/2019), ia mencuitkan "Nuke Mars" atau "Bom Nuklir Mars" yang disambut antusias dengan memperoleh lebih dari 32 ribu Retweet dan 240 ribu Like.

Ia bahkan memberikan sebuah desain baju Mars dengan tulisan "Nuke Mars" bagi para penggemar ide gilanya.

T-shirt Nuke Mars dikenalkan oleh Elon Musk. (Twitter/ elonmusk)

Cuitan di atas mungkin terlihat sederhana, namun jika melihat rekam jejak Elon Musk, beberapa tahun lalu ia memang pernah berencana mengebom nuklir Mars meski ilmuwan lain ada yang tak setuju dengannya.

Pada penampilan di acara "The Late Show With Stephen Colbert" pada tahun 2015, Elon Musk pernah mengatakan bahwa cara tercepat menghangatkan Mars adalah dengan mengebom nuklir planet tersebut.

Colbert dengan tertawa bahkan menjulukinya sebagai "Supervillain" atau orang yang sangat jahat.

Meski di acara tersebut terlihat bercanda, cuitan terbarunya mungkin mengindikasikan bahwa rencana Elon Musk ini cukup serius.

Salah satu desain markas manusia di Mars. (Twitter/ ElonMusk)

Dengan menjatuhkan senjata termonuklir di kutub Mars, Elon Musk dan ilmuwan di belakangnya sangat yakin bahwa itu akan menghangatkan Mars dan membuatnya lebih ramah bagi kehidupan manusia.

Dikutip dari Business Insider, idenya adalah untuk melepaskan CO2 yang terperangkap di dalam lapisan es Mars untuk menghasilkan efek rumah kaca.

Namun sebuah penelitian pada tahun 2018 menyimpulkan bahwa menggunakan CO2 untuk mereplikasi atmosfer Bumi tidak mungkin dilakukan dengan teknologi saat ini.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy tersebut menyoroti dua masalah apabila Mars benar-benar dibom nuklir.

Masalah pertama adalah tidak cukupnya CO2 yang terperangkap di Mars untuk menghasilkan efek yang diinginkan.

Sementara masalah kedua adalah partikel-partikel dari atmosfer Mars terus menerus hilang ke angkasa, jadi CO2 yang menguap akan bocor keluar dari atmosfer.

Masih belum jelas apakah Elon Musk sedang menyiapkan rencana kontroversial ini atau tidak, namun apabila ia benar-benar serius, maka roket SpaceX selanjutnya mungkin akan didesain untuk membawa senjata nuklir untuk mengebom nuklir Mars.