Rabu, 20 November 2019
Dinar Surya Oktarini | Rezza Dwi Rachmanta : Senin, 28 Oktober 2019 | 10:00 WIB

Hitekno.com - Macet dan terjebak berjam-jam di mobil adalah permasalahan yang membuat manusia bisa stres. Tak hanya manusia, ternyata hewan seperti tikus juga bisa menjadi stres ketika diminta untuk menyetir mobil mini milik illmuwan.

Sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Kelly Lambert, seorang profesor ilmu saraf di University of Richmond berhasil membuat penelitian yang cukup unik dan lucu.

Mereka menempatkan seekor tikus sebagai pengemudi dan tikus lainnya sebagai penumpang di sebuah mobil mini.

Santai saja, tikus tidak perlu mengganti persneling karena mobil mini milik ilmuwan ini bukan mobil bertipe manual, melainkan "otomatis".

Menggunakan robot pendeteksi arah, tikus hanya perlu mencondongkan badan atau giginya ke luar agar mobil mini bisa melaju sesuai keinginannya.

Tes kecerdasan, tikus ini diberikan oleh ilmuwan sebuah mobil mini. (University of Richmond)

Beberapa ilmuwan dari University of Richmond, Virginia, Amerika Serikat meneliti sekitar 17 ekor tikus yang diatur secara acak sebagai "sopir" dan "penumpang".

Penelitian ini bertujuan meneliti tingkat stres pada otak tikus (dan mungkin juga manusia) atas tekanan yang dipengaruhi oleh lingkungan luar.

Ilmuwan meyakini bahwa dalam menghadapi stres, otak tikus kemungkinan adalah ukuran mini dari versi otak manusia.

Peneliti menguji kotoran tikus khususnya terkait dengan keberadaan dua zat kimia yaitu kortikosteron (zat penyebab stres) dan dehydroepiandrosterone (zat yang menghilangkan stres).

Pada pengujian tinja, tikus yang mendominasi dan memegang kendali memiliki tingkat stres yang rendah.

Tikus ini diminta untuk mengendarai mobil mini milik ilmuwan. (University of Richmond)

Tikus yang merasa memiliki kendali lebih besar terhadap lingkungannya (menjadi supir) memiliki bahan kimia penginduksi stres yang sangat sedikit.

Sementara tikus yang hanya naik sebagai penumpang dan "pasrah", memiliki tinja yang kurang sehat dan diyakini mempunyai tingkat stres tinggi.

Dikutip dari Mashable, Kelly Lambert menjelaskan bahwa jika dilihat secara lebih besar, maka penelitian bisa dihubungkan untuk memahami otak manusia.

"Penelitian tikus baik untuk memahami otak manusia karena pada dasarnya mereka bekerja dengan versi yang lebih kecil dari apa yang kita dapatkan," kata Kelly Lambert.

Otak yang beradaptasi pada tantangan unik dan bisa menyelesaikan masalah dengan baik biasanya memiliki zat penghasil stres yang sangat sedikit.

Sementara otak yang tidak bisa mengendalikan tantangan dan tidak mengerti bagaimana sesuatu bisa terjadi membuatnya menghasilkan zat stres cukup tinggi.

Meski terlihat lucu, tikus yang menyetir mobil mini milik ilmuwan sangat berguna terutama dalam memprediksi cara kerja otak.