Sabtu, 26 September 2020
Dinar Surya Oktarini : Jum'at, 22 Mei 2020 | 19:00 WIB

Hitekno.com - Krisis iklim yang membuat suhu naik membuat ganggang menyebar lebih luas dari sebelumnya di Antartika. Kondisi ini membuat salju tertutup dengan warna hijau. Ilmuwan mengatakan ''salju hijau'' ini kemungkinan akan menyebar seiring meningkatnya suhu global. 

Tim ahli dari Universitas Inggris dan Survei Antartika Inggris, telah menciptakan peta berskala besar pertama dari ganggang mikroskopis di Semenanjung Antartika. Para ilmuwan menggunakan satelit Sentinel 2 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memetakan bunga ganggang.

Ganggang mikroskopis dapat tumbuh di permukaan salju dengan warna hijau atau oranye atau bahkan merah. Ini merupakan kondisi yang buruk karena ganggang yang berada di permukaan salju menghalangi kemampuan salju untuk memantulkan sinar Matahari.

Keberadaan ganggang di permukaan salju akan meningkatkan kemungkinan salju mencair lebih cepat. Salju putih umumnya memantulkan sekitar 80 persen radiasi Matahari, sedangkan "salju hijau" hanya memantulkan sekitar 45 persen.

Dalam Nature Communication, tim melaporkan sebanyak 1.679 ganggang mikroskopis mekar di area yang berbeda, dengan 1,9 kilometer persegi area gabungan di seluruh semenanjung, dan dua pertiganya berada di pulau-pulau kecil di dataran rendah.

Ganggang hanya mekar dalam kisaran suhu tertentu, sekitar suhu titik beku air, yang umumnya terjadi antara November dan Februari. Ganggang tidak dapat bertahan jika suhu terlalu panas atau terlalu dingin.

Selain Antartika, ilmuwan memprediksi wilayah pesisir benua juga akan mengalami peningkatan signifikan dalam pertumbuhan ganggang, selama beberapa dekade mendatang.

"Ketika Antartika menghangat, kami memperkirakan massa keseluruhan ganggang salju akan meningkat," ucap Dr. Andrew Gray, penulis utama penelitian sekaligus peneliti di Universty of Cambridge dan NERC Field Spectroscopy Facility, seperti dikutip dari IFL Science, Jumat (22/5/2020).

Ilustrasi: Perubahan iklim. (Shutterstock)

Para ilmuwan juga memperkirakan bahwa ganggang ini, yang bertindak sebagai penyerap karbon, menghilangkan 479 ton CO2 atmosfer per tahun atau setara dengan emisi 486 pesawat yang bepergian antara New York dan London.

Para ilmuwan berencana untuk mengeksplorasi mengukur penyebaran ganggang lebih lanjut, termasuk ganggang lain dalam penelitian masa depan, dengan melakukan penelitian lapangan di benua Selatan.(Suara.com/Lintang Siltya Utami)