Minggu, 03 Maret 2024
Agung Pratnyawan : Selasa, 07 Februari 2023 | 09:46 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Hitekno.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menegaskan kalau riset alat pendeteksi tsunami bernama InaBuoy tidak dihentikan. Kegitan riset tersebut masih berlangsung hingga sekarang ini.

BRIN masih terus melakukan pemantauan pada kegiatan riset alat pendeteksi tsunami InaBuoy tersebut.

"Bukan dihentikan, (kegiatan riset) tetap dipantau," kata Kepala Biro Komunikasi Publik Umum dan Kesekretariatan BRIN Driszal Friyantoni dimuat Suara.com.

Driszal menyatakan InaBuoy yang berada di tengah laut sebenarnya berpotensi hilang hingga membutuhkan pemeliharaan yang menghabiskan biaya sangat tinggi.

Oleh sebab itu, seiring kegiatan riset InaBuoy masih berjalan maka BRIN mencoba melakukan penelitian agar bisa menghasilkan teknologi yang bagus, canggih dan murah namun tetap mengeluarkan hasil yang akurat.

Hal tersebut sejalan dengan tugas BRIN untuk melakukan riset yang penuh inovasi sehingga bisa menemukan penemuan-penemuan yang lebih baik dan efisien.

"Itu sedang dilakukan. Kita lihat juga kan di berita bahwa si Buoy sedang kita lakukan penggantian baterai karena ada beberapa yang sudah habis masanya," katanya.

Sebagai informasi, BRIN diisukan menelantarkan alat pendeteksi tsunami bernama InaBuoy karena ketiadaan anggaran sehingga fasilitas ini dihentikan.

Meski demikian penting dicatat bahwa alat pendeteksi tsunami juga dimiliki oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Dengan kata lain, selain BRIN, BMKG juga memiliki alat serupa.

Bahkan faktanya sistem dan alat pendeteksi tsunami yang dioperasikan oleh BMKG jauh lebih banyak ketimbang yang dimiliki dan dioperasikan oleh BRIN.

Itulah jawaban BRIN atas kabar dianggap menelantarkan alat pendeteksi tsunami bernama InaBuoy tersebut. Bukan dihentikan penelitiannya, namun sedang dalam penggantian baterai dan masih dalam pengawasan BRIN. (Suara.com/ Liberty Jemadu)

BACA SELANJUTNYA

Penelitian Kaspersky Ungkap Bagaimana Bisnis Gelap Terjadi di Darknet