Sabtu, 28 Januari 2023
Dinar Surya Oktarini | Amelia Prisilia : Jum'at, 25 Mei 2018 | 17:35 WIB

Aktifkan Notifikasimu

Jadilah yang pertama menerima update berita penting dan informasi menarik lainnya.

Hitekno.com - Studi Frost & Sullivan yang diprakasai oleh Microsoft mengungkapkan potensi kerugian ekonomi di Indonesia karena insiden keamanan siber sudah setara dengan 3,7 persen jumlah total PDB di Indonesia.

Insiden keamanan siber ini selain merugikan finansial juga mengurangi kemampuan berbagai organisasi di Indonesia untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada di era ekonomi digital saat ini.

Namun, transformasi digital akan semakin genting dengan diumumkannya rencana kerja "Making Indonesia 4.0" oleh Presiden Joko Widodo dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.

Hal ini tentu bisa menjadi hambatan bagi setiap perusahaan di Indonesia untuk dapat menyelaraskan strategi berdasarkan rencana kerja tersebut.

Dalam studi yang berjudul "Understanding the Cybersecurity Threat Landscape in Asia Pacific: Securing the Modern Enterprise in a Digital World", hampir setengah dari seluruh organisasi yang disurvei di Indonesia sudah mengalami insiden keamanan siber (22%).

"Ketika berbagai perusahaan kini menyambut peluang-peluang yang ditawarkan oleh komputasi awan dan mobile untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan mengoptimalkan operasi perusahaan, mereka menghadapi resiko-resiko baru" ungkap Haris Izmee, Direktur Utama Microsoft Indonesia.

Menurut Haris, dengan batasan-batasan Teknologi Informasi yang semakin menghilang, penjahat siber akan menemukan sasaran baru untuk diserang.

Kerugian Karena Insiden Keamanan Siber

Sumber foto: Microsoft

Sebuah organisasi berskala besar di Indonesia kemungkinan dapat mengalami kerugian ekonomi yang 200 kali lebih besar dibandingkan dengan kerugian ekonomi rata-rata sebuah organisasi skala menengah.

Selain itu, serangan siber juga bisa menyebabkan kehilangan pekerjaan pada beragam fungsi tujuh dari sepuluh (69%) organisasi yang mengalami serangan selama 12 bulan terakhir.

Dalam penelitian ini, Frost & Sullivan menciptakan model kerugian ekonomi berdasarkan data ekonomi makro dan hasil analisa dari responden survei.

Model tersebut dibagi menjadi tiga jenis kerugian, antara lain Direct, Indirect, dan Induced.

Dalam model direct, kerugian finansial berhubungan langsung dengan serangan keamanan siber, termasuk kerugian produktivitas, denda, biaya perbaikan, dan lain-lain.

Berbeda model direct, beda juga model indirect yang kerugian peluang bagi perusahaan seperti hubungan baik dengan pelanggan karena kehilangan reputasi.

Sedangkan induced, dampak serangan siber ada pada ekosistem dan ekonomi yang lebih luas, seperti menurunnya jumlah pengeluaran pelanggan dan perusahaan.

"Meskipun kerugian langsung serangan siber merupakan yang paling nyata, hal tersebut hanya seperti ujung puncak gunung es (iceberg), ada banyak kerugian-kerugian tersembunyi lainnya yang harus kita pertimbangkan dari sisi indirect dan induced, dan berbagai kerugian yang sering diabaikan." ungkap Hazmi Yusof, Managing Director Frost & Sullivan Malaysia dan SVP Frost & Sullivan Asia-Pacific.

Ancaman Siber Utama dan Celah dalam Strategi Keamanan Siber di Indonesia

Meskipun serangan siber sangat tinggi seperti ransomware, dan berhasil menunjukan bahwa banyak perusahaan yang sudah mengalami serangan keamanan siber, Eksfiltrasi Data yang merupakan kekhawatiran terbesar dengan dampak besar dan waktu perbaikan yang lama.

Selain ancaman dari luar, riset ini juga menunjukan adanya celah utama dalam pendekatan keamanan siber organisasi pada saat melindungi kekayaan digital.

Di antaranya adalah keamanan menjadi sebuah renungan baru yang dipikirkan, menciptakan sebuah lingkungan kompleks, dan kekurangan strategi keamanan siber.

"Lingkungan ancaman yang selalu berubah merupakan tantangan, namun banyak cara untuk menjadi lebih efektif dengan menggunakan perpaduan yang tepat antara teknologi modern strategi dan keahlian," tambah Tony Seno Hartono, National Technology Officer of Microsoft Indonesia.

Microsoft membantu memperdayakan bisnis di Indonesia untuk memanfaatkan transformasi digital dengan membantu menggunakan teknologi yang tersedia secara aman dan melalui platform produk dan jasa yang aman, serta dipadukan dengan keahlian yang unik dan kemitraan industri yang luas.

Microsoft di Indonesia bekerja sama dengan lima penyedia pusat data lokal, Telkom Telstra, CBN, VibiCloud, Visionet, dan Datacomm untuk menghadirkan sebuah platform hybrid cloud yang memampukan bisnis di Indonesia lebih optimal.

Artificial Intelligence (AI): Garda Terdepan dalam Pertahanan Keamanan Siber

Sumber foto: Pixabay

AI kini menjadi sebuah lawan yang tangguh bagi serangan siber karena kemampuannya untuk mendeteksi dan bertindak terhadap berbagai ancaman.

Hal ini juga diungkapkan pada "Making Indonesia 4.0".

Kemampuan AI untuk menganalisa dan merespon secara cepat dengan jumlah yang sangat banyak ini semakin diperlukan di dunia dengan frekuensi dan skala secarangan siber yang semakin meningkat.

Arsitektur keamanan siber yang didorong oleh AI akan menjadi lebih pintar dan diperlengkapi dengan kemampuan untuk memperkuat sistem keamanan sebelum masalah muncul.

Hal tersebut juga mampu memberi kemampuan bagi perusahaan untuk menyelesaikan setiap tugas seperti mengidentifikasi serangan siber, menghilangkan ancaman berbahaya dan memberbaiki bugs, lebih cepat dari manusia, serta membuatnya menjadi elemen yang semakin dibutuhkan untuk strategi keamanan siber setiap perusahaan.

Rekomendasi Melindungi Perusahaan Modern dalam Dunia Digital

Untuk membantu organisasi agar bertahan dari serangan siber dan infeksi malware, berikut enam cara terbaik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertahanan.

Dengan memposisikan keamanan siber sebagai sebuah penggerak transformasi digital, terus berinvestasi dengan memperkuat dasar-dasar keamanan, memilih platform awan yang konsisten dan aman, memaksimalkan keterampilan dan peralatan dengan menggunakan peralatan terintegrasi terbaik.

Selain itu, dengan melakukan penilaian, pemeriksaan, dan kepatuhan berkala serta memaksimalkan penggunaan AI dan otomasi untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas.

Hitekno.com/Amelia Prisilia

BACA SELANJUTNYA

Badai Belum Usai, Kini Giliran Spotify yang PHK Karyawan