hitekno.com - Unggahan akun @lambeonlen pada Jumat (09/11/2018) menjadi viral di Twitter sesaat setelah dibuat. Unggahan tersebut berisi penilaian customer mengenai seorang driver ojol yang salah menyebutnya dengan sebutan 'Bang'. Customer perempuan ini langsung menghadiahi si driver dengan bintang 1.
''Lebay amat buset hal sepele kek gitu ngasih bintang 1?? Apakah dia lupa kalo mang ojol juga manusia, tempatnya salah dan lupa hmmmm.'' tulis @lambeonlen.
Si customer perempuan yang tidak diterima dipangil dengan sebutan 'Bang' ini lalu memberikan penilaian usai si driver menyelesaikan orderan.
Menurutnya, sebaiknya para driver ojol menyapa customer-nya dengan sebutan 'Kak' yang cukup netral dan dapat digunakan untuk perempuan dan laki-laki.
''Saya dipanggil ''Bang''... Padahal saya perempuan.. Kalo saran saya sih sebelum yakin sama jenis kelamin customer mending nyapanya nggak usah pake embel-embel apa pun dulu.. Atau nggak pake sapaan yg netral aja ''Kak'' itu kan netral bisa buat perempuan bisa buat laki-laki...'' tulis penilaian si customer.
Protes customer yang kesal disebut 'Bang' ini langsung mendapat banyak komentar dari netizen.
''biasanya sih kalo ada mba2 yg sensi krna ga sengaja di panggil "bang" gini.....jangan2..... emang pernah jd abang2 di masa hidup sebelumnya :('' tulis akun @giesssss.
''Yaelah.. Aku udah 3x dipanggil "bang" sama kasir indomaret b aja. Padahal lebih sedih aku harusnya.. Kasir indomaret loh, udah tatap muka'' komentar akun @Melva_Meiliza.
Unggahan mengenai customer kesal karena disebut 'Bang' ini sebelumnya dibuat oleh akun Facebook Jusuf Marangg, sebelum diunggah kembali oleh akun @lambeonlen. Menurutmu gimana nih?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi