hitekno.com - Youtuber Atta Halilintar akhirnya bisa meraup 9 juta subscriber belum lama ini. Dengan ini, Atta Halilintar memposisikan dirinya sebagai youtuber dengan jumlah suscriber terbanyak di Asia Tenggara.
Tak ada yang menyangka jika Channel YouTube Atta Halilintar bakal tumbuh dan terus membesar. Dari satu subscriber hingga akhirnya ia memiliki sembila juta subscriber di YouTubenya.
Atta Halilintar membagikan kabar bahagia tersebut, pada Sabtu (19/1/2019) lewat unggahan di akun Instagram pribadinya.
Lewat tulisan angka sembilan juta di monitor laptop, Atta Halilintar menunjukkan kerja kerasnya selama ini terbayarkan. Ini juga menjadi sejarah baru untuk YouTube Indonesia dan Asia Tenggara.
Pasalnya, Atta Halilintar adalah orang Indonesia pertama yang berhasil melampaui 9 juta subscriber. Bahkan Atta Halilintar juga berhasil menjadi yang pertama di Asia Tenggara.
Dengan capaian 9 juta subscriber yang telah ia raih ini, Atta Halilintar sekaligus mengajak untuk menengok masa lalunya.
Bagaimana seorang Atta Halilintar remaja berjuang untuk hidup dengan berdagang. Semuanya akan menjadi pembelajaran yang berharga untuk Atta Halilintar.
''Jadi pelajaran berharga untuk jadi kreatif sampai sekarang, walau banyak gangguan rintangan, tiruan, dan lain-lain tetap work hard pray hard,'' tulis Atta Halilintar.
Ria Ricis lewat channel YouTube Ricis Officialnya kini memiliki 8,7 juta subscriber. Sedangkan Raditya Dika yang dahulu pernah merajai YouTube Indonesia, kini memiliki 5,7 juta subscriber.
Dengan capaian 9 juta subscriber ini, YouTuber mana yang bisa menyaingi Atta Halilintar di Asia Tenggara? (Matamata.com/Bima Sandria Argasona).
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi