hitekno.com - Lagi, Kaesang Pangarep kembali dengan kehebohan di Twitter usai mendapat mention dari seorang netizen yang mengaku sebagai tim sukses dirinya pada pemilihan tahun 2025 mendatang. Dirinya dibuat ngegas hingga kesal dan menggunakan capslock untuk membalas cuitan netizen ini. Kok bisa ya?
Cuitan ini bermula dari Kaesang Pangarep yang setuju jika Al Ghazali menjadi ikon milenial. Netizen dengan akun @poetathoes ini lalu meyakinkan dirinya bahwa ia siap menjadi anggota tim sukses Kaesang Pangarep pada pemilihan tahun 2025 nanti.
''tenang, saya akan jadi timses mas kaesang 2025 nanti'' tulis @poetathoes.
''EMANG 2025 ITU PEMILIHAN APA?!?'' tulis @kaesangp dalam balasannya.
Bingung dengan pemilihan apa yang akan berlangsung di tahun 2025, netizen dengan akun @Sadr_Weak mencoba menjawab pertanyaan besar Kaesang Pangarep ini.
''Putri Indonesia'' tulis @Sadr_Weak yang sukses buat Kaesang Pangarep menjadi makin kesal hingga ngegas.
Balasan Kaesang Pangarep yang kesal hingga ngegas ini rupanya menjadi sumber kebahagiaan netizen Twitter yang langsung ramai-ramai membalas cuitannya tersebut.
''ngegas terus gr2 ga dijak ke NET'' tulis @mutasbaelah menebak alasan Kaesang Pangarep begitu ngegas.
''Setiap baca tweetnya selalu ngegas kubacanya dalam hati :('' ungkap @sitranurul.
''Tensimu loh mas ati2 ... sabar'' komentar netizen dengan akun @comfort_dluxe.
Sepertinya Kaesang Pangarep selalu menjadi bulan-bulanan netizen Twitter ya. Setiap aksinya selalu menjadi perbincangan hangat. Kasian juga jika Kaesang Pangarep selalu menjadi bahan bully netizen.
Cuitan Kaesang Pangarep yang kesal hingga ngegas disuruh ikut pemilihan tahun 2025 ini sudah mendapat 143 komentar netizen di Twitter.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi