hitekno.com - Belum lama ini, YouTube telah berburu channel yang terlibat dalam eksploitasi anak di platformnya. Setidaknya, lebih dari 400 channel YouTube terkait hal ini telah dihapus.
Tak banyak itu, YouTube juga telah menghapus puluhan juta komentar terkait dengan eksploitasi anak yang sempat marak. Laporan ini diberikan tim penjangkauan creator YouTube.
Laporan tersebut menyatakan bahwa pihak YouTube tengah mengatasi masalah itu dan terus mengembangkan tim yang terkait untuk menjaga keamanan platform.
YouTube juga telah melaporkan komentar dan akun yang bersangkutan kepada penegak hukum.
Dilansir dari The Verge, seorang juru bicara YouTube mengatakan bahwa tim telah mengambil tindakan dengan menghapus akun dan channel, melaporkan aktivitas ilegal ke pihak berwenang, dan menonaktifkan komentar yang melanggar aturan.
Seorang creator YouTube bernama DeFranco mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang secara konsisten diberantas oleh YouTube selama bertahun-tahun.
Hal tersebut bukan murni kesalahan YouTube, namun begitu pihak YouTube mengetahui konten yang menyinggung, maka YouTube akan langsung menangani situasinya.
YouTube mengatakan bahwa 79,6 persen video yang dihapus sebagian besar karena melanggar kebijakan platformnya, seperti spam, konten menyesatkan, dan penipuan.
Untuk rinciannya, sebanyak 10,2 persen video memuat konten yang mengancam keselatan anak, 9,9 persen memuat konten pornografi, 3,4 persen berisi konten kekerasan, dan 2,2 persen memuat konten pelanggaran lainnya. Sementara itu, 12,6 persen dihapus karena berisi konten seksual. (Suara.com/Lintang Siltya Utami)
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi