hitekno.com - Rusuh di Bawaslu yang dilakukan sekelompok massa sejak Selasa (21/5/2019) hingga hari ini, Rabu(22/5/2019) sedang menjadi topik hangat di media sosial. Namun, di tengah rusuh tersebut, penampakan seorang tukang kopi sukses curi perhatian netizen.
Video tukang kopi ini pertama kali terekam dalam video salah satu stasiun televisi swasta yang diunggah ke Twitter oleh akun @UncleDimas pada Rabu (22/5/2019).
Dalam video berdurasi 12 detik tersebut terlihat seorang tukang kopi sedang melintas di tengah anggota polisi yang duduk usai mengamankan aksi demo di Bawaslu tersebut.
Tukang kopi yang mengenakan kaus berwarna putih dan celana berwarna biru ini mengayuh sepedanya sambil melintas melewati barisan polisi dan massa yang ada di depan gedung Bawaslu.
Seolah tidak peduli dengan rusuh yang tengah terjadi, tukang kopi ini melintas sambil berharap ada yang tertarik membeli beragam kopi yang akan ia suguhkan.
Di tengah rusuh di Bawaslu ini, penampakan tukang kopi tersebut rupanya menjadi hiburan untuk netizen yang langsung membanjiri kolom komentar unggahan @UncleDimas.
''bagaimanapun situasi nya, youre-the-coffee-that-I-need-in-the-morning dulu..'' tulis akun @agifwahyup terkesan.
''Kesahariannya sudah lebih perih daripada gas air mata. Demo atw ga life must go on...'' komentar pemilik akun @pohonkelapa.
''Kejar rejeki...buat lebaran besok...lumayan kan lokasi lagi rame...'' ungkap akun @fahrie_mion.
''Gak punya duit di Jakarta lebih menyeramkan dari pada demo ini..'' tulis pemilik akun @skskgwlah.
Aksi tukang kopi di tengah rusuh di Bawaslu ini sudah ditonton sebanyak lebih dari 541 ribu kali dan mendapat 22.990 retweets dari netizen.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi