hitekno.com - Apa itu Memex yang sedang ramai dibicarakan banyak orang? Bahkan diklaim bisa menyaingi hingga mengalahkan raksasa teknologi, Google.
Ini Memex dalam lingkup teknologi, lho! Bukan kata jorok yang sering digunakan. Bukan pula senjata kimia pemusnah massal yang membahayakan.
Memex adalah search engine atau mesin pencari sama seperti Google. Namun bedanya, tidak tersedia secara bebas untuk di akses selayaknya Google.
Kesamaan lainnya adalah sama-sama buatan Amerika Serikat (AS). Jika Google buatan duet Larry Page dan Sergey Brin, Memex buatan pemerintah AS.
Lebih tepatnya dikembangkan oleh Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), badan penelitian milik departemen pertahanan AS.
Memex sendiri adalah singkatan dari Memory Extender atau kadang juga disebut Memory Index. Konsepnya telah dicetuskan Vannevar Bush pada 1945.
Namun baru pada 2014, DARPA mengeluarkan statment kalau mereka mengembangkan program mesin pencari bernama Memex ini. Dari situ nama ini makin terkenal.
Hal ini karena Memex memakai metode baru yang dapat memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan data dan informasi secara lebih baik.
Memex juga diklaim mampu melakukan pencarian lebih dalam dibandingkan Google, Bing maupun Yahoo. Bahkan diklaim mampu melacak kejahatan online.
Kejahatan online seperti perdagangan manusia, prostitusi online, dan masih banyak lainnya sering bersembunyi di Deep Web yang tak terjamah search engine komersial.
Karena itulah kenapa Memex sering disebut-sebut sebagai mesin pencari di kegelapan internet atau juga disebut search engine Deep Web.
Bahkan DARPA memakai slogan "We Search The Dark Side of Web" untuk mesin pencari Memex ini. Hingga kini Memex masih digunakan secara tertutup.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi