hitekno.com - Netizen dengan selera humor yang tinggi biasanya dapat menampilkan kesombongan dengan cara yang cukup absurd. Sebuah postingan menu mi instan di akhir bulan ini berhasil membuat netizen lainnya merasa sebel sekaligus geli.
Seorang netizen dengan akun bernama Dwi Wahyu Daruadi Utomo membagikan postingan dengan caption bertuliskan "Akhir bulan, hanya ditemani mi instan sahaja".
Postingan yang dibagikan berhasil viral di Facebook setelah mendapatkan lebih dari 800 Like dan ratusan komentar "kecaman" dari netizen.
Sangat lucu sekaligus membuat geram, postingan itu bahkan telah dibagikan lebih dari 1.700 kali hanya dalam waktu 6 hari saja.
Caption yang dituliskan juga menampilkan pesan sederhana karena mengganti kata "saja" dengan "sahaja".
Memang benar bahwa orang itu hanya memasak mi instan saja, namun lauk yang ada di sampingnya justru membuat netizen geram sekaligus ngakak.
Bagaimana tidak, di akhir bulan yang identik dengan tidak punya uang, orang ini justru memiliki lauk seekor lobster berukuran jumbo.
Seperti yang telah diketahui, lobster adalah menu makanan laut yang cukup mahal sehingga menjadi makanan favorit orang menengah ke atas.
Kesombongan yang tersembunyi yang dilakukan oleh orang ini sepertinya sangat berhasil sehingga postingan yang ia bagikan berhasil viral di Facebook.
"Bang berantem yok, sebel gua," komentar Ibna Nurul Fuaddina.
"Salah paham kalian c*k , itu yang ngomong akhir bulan ya si lobsternya," tulis Muhammad Naufal Al Ghany.
"Apakah ini yang dinamakan akhir bulannya seorang sultan?" balas Aris Setiawan.
Itulah tadi menu mi instan yang mengandung kesombongan tersembunyi sehingga viral di Facebook, tertarik mempraktikkannya?
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi