hitekno.com - Sebuah curhatan yang membahas mengenai perendahan diri seseorang biasanya menimbulkan kesedihan tersendiri. Tak bersedih, netizen justru heran dan geli dengan pepatah serta pernyataan dari cowok satu ini.
Pengguna TikTok dengan akun bernama @dika_khan0 membagikan momen ketika dirinya berada di ladang sembari membawa cangkul.
"Pepatah Thailand mengatakan #$&#$##$," tulis pada caption-nya. "Curhatan" ini rupanya viral setelah mendapatkan lebih dari 5,8 juta View dan 430 ribu Like.
Tak bersedih dengan pernyataan cowok tersebut, netizen justru dibuat penasaran dengan pepatah Thailand yang disampaikan oleh cowok ini.
"Dihina karena jadi anak petani? Ingat bro! pepatah Thailand mengatakan Homela Kap Nhai Khamlo..#$&#$##$," kata @dika_khan0 pada postingannya.
Mengakhiri video parodi, ia memutar kamera sambil menampakkan wajah "nge-troll" miliknya.
Beberapa netizen ikut berspekulasi mengenai pepatah Thailand yang disampaikan oleh cowok gokil ini.
Akun fanspage @bocah_dagelan juga membagikan konten absurd ini sehingga semakin viral di media sosial.
Video viral mengenai parodi "pepatah Thailand" mendapatkan beragam komentar dari netizen.
"Omong opo kowe bro (ngomong apa kamu bro)..wkwkwk," kata @user113922.
"Woi yang bisa translate kasih tahu gue ya," pinta @eghanegara12_.
"Dia tuh ngomong Homela Kap Nhai Khamlo To Long Tho Kho Kamlai Cato Camto Be Dhay. Kira-kira itu yang dia bilang (emoticon tertawa)," komentar @duta.MP5.
"Aduh, gue lagi makan langsung keselek kan..hahaha," tulis @GuaSiapa3.
"Mungkin artinya: nggak ada petani kalian nggak makan," balas @ff.bearrr.
Untuk melihat video viral mengenai parodi "pepatah Thailand", kalian bisa mengunjungi postingan asli melalui link ini.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi