hitekno.com - Beberapa pengguna Instagram menyampaikan keluhan pada apa yang mereka temui dari fitur Explore. Mereka mengeluhkan Explore Instagram dipenuhi konten dewasa.
Tidak hanya foto seksi, video vulgar dan konten dewasa juga NFSW lainnya dikeluhkan membanjiri Explore Instagram mereka.
Beberapa pengguna ini mencurhatkan Explore Instagram mereka melalui Twitter belum lama ini. Dimulai dari akun Twitter @____denisa soal yang ditemukannya.
"Kok explore IG gue isinya full b***p?????? takut banget" keluhnya di Twitter.
Sama juga netizen lainnya juga mengeluhkan hal yang sama akan Explore Instagram penuh konten dewasa dan hal-hal yang tidak mereka sukai.
"Eh aku kira punyaku aja padahal aku ga pernah nyari hal-hal kayak gitu, mana ada beberapa yang no sensor aneh" keluh netizen.
"Iya gua syok, ga full tapi ada," tulis lainnya.
"Ih sama, padahal udah di not interest berkali-kali," komentar netizen.
"Kirain punya gue doang, Reels isinya yang mesum semua," ungkap lainnya.
"Iya terus sempet mikir IG kok sekarang se-bar-bar itu," heran netizen.
Setting Sensitive Content Control
Ada juga netizen yang memberikan saran untuk melakukan pengubahan dalam setting. Yakni pada Sensitive Content Control diubah ke Less.
Bagaimana caranya? Mudah, dimulai dari masuk ke profil akun kamu, kemudian tekan garis tiga di kanan atas > Setting > masukkan "sensitive content control" dalam kolom pencarian.
Lalu pilih "sensitive content control" pilih Less pada opsi berapa banyak konten sensitive yang dimunculkan Instagram.
Apakah kamu menemukan konten dewasa, foto seksi, hingga video vulgar dalam Explore Instagram juga? Atau bahkan sampai masuk ke Feed juga?
Tag
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi