hitekno.com - Sempat beredar chat WhatsApp yang mengklaim penerima mendapatkan hadiah undian Pesta Panen BRI. Bernarkah isi pesan tersebut? Simak ulasan cek fakta berikut ini.
Berdasarkan tangkapan layar chat WhatsApp tersebut mengklaim kalau penerima pesan menerima hadiah udian Pesta Panen BRI. Pesan tersebut juga mengatasnamakan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dikutip dari CEK FAKTA dalam situs resmi Kominfo, ternyata isi chat WhatsApp tersebut adalah hoaks atau berita bohong.
Pesan undian tersebut bukan chat WhatsApp asli dari BRI, melainkan aski penipuan yang disebarkan melalui layanan pesan tersebut.
Beredar sebuah gambar tangkapan layar yang memperlihatkan chat WhatsApp mengatasnamakan Bank Rakyat Indonesia (BRI) berisi informasi pemenang undian berhadiah Pesta Panen Bank Rakyat Indonesia (BRI) awal tahun sebesar Rp65 juta.
Melalui akun Twitter resmi @kontakBRI, BRI mengklarifikasi bahwa pesan yang beredar itu adalah hoaks. BRI meminta untuk selalu waspada terhadap modus penipuan mengatasnamakan BRI. Selain itu, BRI tidak pernah meminta data pribadi melalui pesan WhatsApp.
Karena chat WhatsApp yang mengklaim hasil pemenang hadiah Undian Pesta Panen BRI tersebut adalah hoaks.
Kategori: Hoaks
Link Counter:
- https://twitter.com/kontakBRI/status/1640218294782414848
- https://jalahoaks.jakarta.go.id/detail/HOAKS-PESAN-WHATSAPP-PEMENANG-HADIAH-UNDIAN-PESTA-PANEN-BRI
- https://www.kominfo.go.id/content/detail/48225/hoaks-pesan-whatsapp-pemenang-hadiah-undian-pesta-panen-bri/0/laporan_isu_hoaks
Itulah hasil CEK FAKTA chat WhatsApp yang mengklaim penerima mendapatkan hadiah undian Pesta Panen BRI. Yang ternyat tidaklah benar, alias hoaks.
Berita Terkini
-
Website Baru Susah Nangkring di Google? Ternyata Ini Rahasia yang Dipakai Banyak Blogger
-
Local Media Community: Masukan terhadap Revisi UU Hak Cipta Demi Masa Depan Ekosistem Media di Indonesia
-
DTI Series 2026 Hadirkan Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Percepatan Transformasi Digital Indonesia
-
Kolaborasi AI Dataiku dan Palang Merah Singapura Atasi Krisis Bencana
-
Mengapa Kepercayaan Digital di Asia Pasifik Membutuhkan Sistem Terintegrasi